Cinta Sejati (3)

Sumber gambar : cinta.love

Bagian satu, klik di sini (by Shiq4)

Bagian dua, klik di sini (by Cinta)

Minggu pagi. Langit baru bangun tidur. Ia memangil Abdul dan Sholikin dengan suara kencang, tapi hanya ada keheningan. Tidak seorang pun menyahut. “Ah benar…. Sekarang hari minggu, mereka berdua pasti sedang bermain game online di internet” Pikir Langit.

Langit menengok jam dinding yang masih menunjukkan pukul 07:30. Tidak biasanya ia bangus sesiang ini, gara-gara tadi malam memikirkan permainan yang dirancang oleh Silfin, is tidak bisa tidur. Langit hendak mandi, tapi ia mengurungkannya karena bunyi bel berbunyi.

Silfin berdiri di depan rumah sederhana dan ia menuggu penghuninya membuka pintu. Sudah tiga kali ia memencet bel dan sebelum ia memencet untuk keempat kalinya, pintu rumah terbuka. “Ternyata Silfin, Mengapa kau datang sepagi ini? apakah ada sesuatu yang penting?” Langit berkata dengan senyum hangat.

“Kurasa ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Kak Langit. Tentang hubungan kita. Apakah aku menganggu?” Silfin bersuara dengan rendah dan terlihat sedih.

Langit cukup terkejut dengan kehadiran Silfin, tapi tetap tenang “Baiklah. Tunggu sebentar”

Kemudian Langit masuk kembali ke dalam rumah. Tiga menit berlalu dan muncullah Langit dengan memakai pakaian yang berbeda. “Ayo ikut aku. Oh ya ngomong-ngomong bagaimana Silfin tahu rumah kontrakanku?” Langit mengunci pintu dan berjalan perlahan. Silfin mengekor di belakang Langit seperti anak ayam yang mengikuti induknya “Aku SMS Sholikin. Kita mau kemana? Aku hanya sebentar saja kok….”

“Silfin sudah akrab ya dengan Sholikin. Itu bagus. Kita akan mencari tempat untuk mengobrol, memang Silfin kira kita mau kemana?” Langit berhenti sejenak, menoleh ke Silfin saat mengatakannya, lalu kembali melanjutkan berjalan.

“Bukankah kita bisa melakukan di rumah saja? Lagipula aku hanya sebentar saja kok” Silfin mengulang pernyataannya.

Langit kembali berhenti melangkah “Kalau kita melakukannya di rumah, warga sekitar akan gempar. Memang apa yang akan dipikirkan orang-orang jika melihat ada seorang gadis dan seorang lelaki dalam sebuah rumah sendirian? ”

Silfin diam saja. Ia tampak benar-benar sedih. Keadaan itu terlihat jelas di mata Langit. Tapi Langit tidak tahu mengapa Silfin tampak menyedihkan pagi ini. “Kita sudah sampai. Kita bisa ngobrol di warung itu. Sambil makan tentu saja.” Langit menunjuk warung sederhana dan meninggalkan Silfin. Silfin pun hanya bisa kembali mengekor, masih ragu bagaimana ia harus mulai bercerita.

Keduanya duduk di meja paling pojok. “Silfin mau minum apa?” Langit berbicara dengan pelan dan tampak memesona meskipun belum mandi pagi itu. “Teh hangat saja. Kalau bisa manis” Silfin duduk diam sementara Langit pergi ke dalam warung dan kemudian terlihat mengatakan sesuatu dengan penjaga warung di bagian dalam.

Tak lama kemudian, Langit membawa secangkir kopi dan segelas besar teh hangat. “Ini teh manis Silfin” Langit duduk berhadapan dengan Silfin, kemudian ia juga mengambil roti yang ada di meja, lalu membuka bungkusnya. “Roti ini enak sekali. Apakah Silfin mau?” Langit berbicara sambil mengunyah.

Silfin masih diam. Meskipun ragu-ragu, Silfin akhirnya berkata “Apakah aku hanya menjadi penganggu bagi Kak Langit? Tadi malam sepertinya SMS Kak Langit mencerminkan demikian”

“Maafkan aku kalau begitu. Mungkin SMSku terlalu kasar. Aku tidak akan mengulangi lagi.” Langit berhenti mengunyah dan menatap Sifin.

Silfin menjadi bingung dengan keadaan yang sekarang. Permintaan maafnya terasa tulus, bahkan ucapan-ucapan langit begitu hangat. Berbeda sekali dengan pria yang ditemuinya tadi malam.“Mengapa Kak Langit begitu baik? Padahal kemarin tidak seperti ini” Wajah Silfin tampak manis. Apalagi Silfin pun tersenyum, senyuman pertama di pagi ini.

“Kemarin aku hanya kesal saja dengan Sholikin dan Abdul. Mengapa mereka terus menyuruhku menerima cinta gadis yang bahkan tidak kukenal. Dan aku menyesal jika Silfin merasa tersakiti dengan diriku tadi malam.” Langit mengambil nafas dalam-dalam kemudian. “Sekali lagi aku minta maaf.”

Silfin masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Lelaki di depannya begitu sopan. Juga menawan. Silfin kemudian menangis sesengukan, setidaknya Silfin masih masih bisa menahannya sehingga hanya tiga tetes air mata saja yang mengalir. “Apakah itu berarti Kak Langit benar-benar menyukaiku sekarang?”

“Mengapa Silfin sangat keras kepala untuk menjadi kekasihku. Bagaimana jika aku tidak seperti yang Silfin bayangkan? Bukankah Silfin hanya akan tersakiti?” Langit merendahkan suaranya kali ini. Silfin memainkan jarinya di pegangan gelas teh di depannya dan menunduk, kemudian mengambil nafas panjang, dan menatap langit “Waktu SMP kelas 3 aku pernah menyukai seorang lelaki yang baru kelas satu SMA. Kukira aku bisa sekolah di sekolah yang sama dengan dia tahun depan dan kemudian menyatakan perasaanku. Tapi kemudian impianku gagal karena orang tuaku pindah ke luar kota dan aku tidak sempat menyatakan perasaanku. Dan aku menyesalinya”

Sebelum melanjutkan perkataannya Langit kemudian memotong “Dan sekarang Silfin bertemu denganku entah di mana, kemudian Silfin merasa menyukaiku, dan karena pengalaman masa lalu tersebut, Silfin tidak mau merasakan kekecewaan seperti di masa lalu. Dan Silfin langsung menyatakan cinta kepadaku meskipun tidak mengenalku dengan baik.”

“Kurang lebih seperti itulah kejadiannya” Silfin tersenyum dengan lepas. Ia begitu bahagia karena merasa Langit adalah lelaki yang mengagumkan. Setidaknya ia tahu mengapa tadi malam lelaki di depannya begitu menyebalkan. “Sekarang aku merasa bahwa Kak Langit adalah lelaki yang baik” wajah Silfin berubah dengan drastis dari kesedihan menjadi penuh kegembiraan.

“Aku tidak seperti yang Silfin kira. Mungkin lebih baik Silfin mencari lelaki lain. Silfin cantik dan kurasa hampir semua pria akan menyukai Silfin” Langit masih pengertian dengan gadis di depannya. “Mungkin kita berteman saja. Tapi untuk menjadi kekasih, itu terlalu konyol. Kita bahkan tidak saling mengenal.”

“Di SMA banyak lelaki yang menyatakan cinta kepadaku. Tapi aku tidak menyukai mereka. Ingat lelaki yang pernah kusukai saat kelas 3 SMP? Ia mengatakan sesuatu yang konyol dan aku benar-benar mempercayainya. Dan aku pun tidak pernah pacaran satu kalipun gara-gara lelaki tersebut. Lagipula sepertinya Kak Langit memang orang yang baik.” Kata Silfin dengan bersemangat.

“Lelaki yang kau ceritakan itu pasti spesial sampai-sampai perkataannya menjadi keyakinan Silfin” Langit menyeruput kopinya. Melihat itu, Silfin pun mengambil tehnya dan meminumnya perlahan-lahan. “Silfin tahu mengapa peraturan no.7 kuciptakan? Jika aku tidak menyukai Silfin, maka aku tinggal mencari gadis lain untuk kupacari. Maka secara otomatis kita akan putus. Itu rencanaku. bagaimana?Masih menganggapku orang baik?”

“Aku sudah memastikan untuk memenangkan permainan yang Silfin ciptakan. Tapi aku juga menciptakan aturan no.10. Apakah Silfin mau merubah aturannya? Langit mengatakannya dengan datar dan kemudian meletakkan cangkir kopinya.

Silfin terdiam sejanak. “Aku bertaruh Kak Langit tidak akan melakukannya. Jika memang terjadi, maka aku pasti sangat terluka. Dan aku akan mengutuk Kak Langit”

Langit kemudian pura-pura ketakutan dan menutup mukanya dan tertawa“Oh… ya Tuhan… ternyata Silfin gadis yang mengerikan”

Silfin ikut tertawa dan ikut berakting “Dan kemudian Kak Langit tidak akan punya pacar. Kemudian sadar bahwa akulah satu-satunya yang mencintai Kak Langit. Kemudian Kak Langit mencariku dan kita menikah dan bahagia selamanya.”

“Indahnya punya pemikiran seperti Silfin” Langit berkata datar dan mereka berdua tertawa-tawa.

“Oh iya… rumah Silfin dimana?” Kali ini Langit yang memulai percakapan.”Rumahku di Malang. Memang ada apa?”

Langit tampak tenang. “Lalu mengapa ngekost?”

“Darimana Kak Langit tahu kalau aku ngekost?” Silfin tampak terkejut. “Tadi malam aku mengikutimu” Langit mengatakan dengan datar lagi. Silfin tersenyum “Apakah Kak Langit khawatir kepadaku? Mengapa tidak bilang, kita bisa berjalan berdua tadi malam.”

“Bukan begitu. Aku hanya takut jika terjadi sesuatu dengan Silfin. Jika sudah begitu, maka aku adalah orang pertama yang akan diinterogasi polisi karena aku orang yang bersama Silfin tadi malam.”

“Kak Langit benar-benar pembohong yang buruk” mereka berdua tertawa lagi.

“Pertanyaan selanjutnya, apa yang sebenarnya dilakukan oleh orang pacaran? Kukira Silfin harus memaklumi karena aku juga tidak pernah serius pacaran sebelumnya”

“Aku juga tidak tahu. Bagaimana kalau makan malam bersama? Atau nonton bioskop? Atau mengirim pesan-pesan cinta?Atau…. berciuman?” Silfin tertawa dengan riang. “Kurasa aku tidak bisa melakukan hal-hal semacam itu. Itu membosankan. Apalagi yang terakhir, ciuman pertamaku harus untuk gadis yang benar-benar kucintai. Dan kurasa saat ini aku belum mencintai Silfin.”

Silfin kembali tampak sedih. “Baiklah. Kalau begitu, saat Kak Langit sudah menciumku, itu berarti Kak Langit sudah menyukaiku. Itu akan kujadikan pertanda” Silfin tersipu malu.

 Kemudian mereka berdua mengobrol sampai pukul 12 siang, sampai Silfin mendapat SMS dari Dewi. Silfin berpamitan pulang setelah itu. Dan kali ini ia menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Langit tidak mengikutinya seperti malam sebelumnya.

*******************

Sholikin duduk di ruang tamu sendirian menunggu Langit. Ia tahu bahwa Langit bersama dengan Silfin, Tapi ini sudah terlalu lama dan Sholikin mulai khawatir. Sampai akhirnya yang ditunggu pun tiba.

“Aku sudah menunggumu lama sekali. Kuharap kau tidak melakukan kebiasaan burukmu pada Silfin.” Sholikin tampak serius.

“Aku melakukannya. Aku mengatakan rencana jahatku seperti biasanya. Tapi sepertinya Silfin tidak takut dan dia baik-baik saja.”

“Kau selalu seperti itu. Kemudian Silfin hanya mengangapnya sebagai lelucon padahal apa yang kau katakan akan benar-benar kau lakukan. Mengapa kau selalu mempermainkan orang seperti itu?” Sholikin bersuara lebih keras. “Ayolah semua orang punya sifat masing-masing. Seperti kau, kau selalu mengatakan tentang harga diri dan prinsip hidup. Bahkan ketika kau tidak bisa mengerjakan soal ujian, kau pun tidak mencontek dan tetap bangga mendapat nilai C. Lalu Abdul yang selalu bercanda soal pornografi, bahkan kepada para gadis. Lalu apa masalahnya?” Langit membela diri.

“Entahlah kawan. Kurasa kau benar. Tapi aku dan Dul tidak pernah mempermainkan orang. Kami berdua sudah tahu sifatmu dan bisa membedakan mana yang serius dan mana yang bercanda. Tapi Silfin tidak mengenalmu. Dia akan terluka, kau tahu?”

“Kau boleh memberitahunya jika kau mau. Tapi bukan aku yang memulai. Tadi aku sudah memperingatkan dia bahwa aku tidak sebaik yang dia pikirkan. Dan aku juga sudah memberi nasihat untuk mencari lelaki lain” Kali ini Langit bersuara agak keras. “Aku ingin ke kamar dan belajar” Langit yang sedari tadi berdiri perlahan meninggalkan Sholikin yang duduk di ruang tamu.

“Jika boleh tahu apa rencanamu?”

“Tidak ada. Aku ingin belajar psikologi, kurasa aku sedikit tahu tentang sifat Silfin. Aku tidak berniat jahat, sebagai ucapan terima kasih karena menyukaiku, itu pun jika ia tulus, aku akan meneliti cara menyenangkan hati seorang gadis.Dan itu hadiahku untuknya. Itu saja” Langit mengatakan dengan suara rendah dan tersenyum sinis, lalu berlalu dari ruang tamu.

“Semoga kau tahu apa yang kau lakukan. Dan tidak semua orang bisa menjadi kelinci percobaan untuk ilmu pengetahuanmu” Sholikin berteriak. Sebelum masuk kamar, Langit masih mendengar dengan jelas suara Sholikin. Langit menutup pintu dan mulai mempelajari segala sesuatu berkaitan dengan psikologi sesuai gambaran sifat Silfin. “Lagipula dia yang menghampiriku lebih dulu. Setidaknya ia harus berguna untukku. Menjadi kelinci percobaanku” Langit tersenyum sinis dan mulai membuka laptop dan berselancar mempelajari psikologi untuk menyenangkan hati  gadis dengan sifat seperti Silfin.

Langit hanya menganggap hubungannya dengan Silfin sebagai percobaan ilmiah saja, tidak lebih dari itu. “Siapa yang menjamin Silfin tidak akan seperti Endah. Aku hanya harus berhati-hati ketika memainkannya” batin Langit.(Bersambung…..)

Iklan

7 tanggapan untuk “Cinta Sejati (3)

      1. Saya herannya ide kalian berduanya nyambungnya cepat, hehe…salut, benar2 terlatih dlm menulis.

        Saya sendiri lagi nyusun cerpen tp masih merasa blm lyak untuk dipublikasi. Entahlah, perlu bljar banyak lg ni ttg cerpen dan cara buat cerpen.

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s