Review Buku Jewels By Danielle Steel

Review Buku Jewels by Danielle SteelSumber gambar : wikipedia

Entah sudah berapa kali saya membaca buku Jewels. Saya tidak ingat, tapi saya tetap kagum dengan kisah di dalamnya. Apalagi semua tampak manusiawi: penderitaan, kebahagiaan, kepahitan, dan bermacam-macam rasa hadir di kehidupan Sarah. Seandainya ia ada di kehidupan nyata, saya tidak ragu untuk segera melamar Sarah.

Di masa kuliah, buku ini merupakan salah satu hiburan terbaik bagi saya. Ketika itu keadaan benar-benar buruk. Saya bahkan tidak lagi merasakan gairah hidup saat itu. Tapi Jewels karya Danielle Steel mampu melakukan sedikit keajaiban yang membuat saya menjadi optimis tentang masa depan dan cinta. Dan saya menyukai kenyataan itu.

Sekarang buku ini lusuh. Sudah terlihat kotor sekali. Namun tetap saja, sejarah di dalamnya memaksa saya untuk mereviewnya agar orang lain menyadari betapa hebatnya kisah kehidupan Sarah dalam buku Jewels.

Judul : Jewels (Permata)

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Pengarang : Danielle Steel

Halaman : 757 Halaman

Jalannya Cerita Buku Jewels Oleh Danielle Steel

Sarah bertunangan dengan Freddie Van Deering ketika berumur 19 tahun. Sarah mencintai Freddie, dan baginya, Freddie adalah lelaki yang menyenangkan. Dan pada akhirnya Sarah dan Freddie pun menikah.

Sarah merasa sangat bahagia ketika berbulan madu. Tapi itu merupakan kebahagiaan terakhir yang harus ia lalui bersama Freddie. Setelah bulan madu, ternyata Freddie masih bersikap sebagaimana masih lajang. Freddie suka bergaul dengan teman-temannya dan pergi ke berbagai pesta, dan meninggalkan Sarah sendirian di rumah.

Awalnya Sarah masih memaklumi kelakukan Freddie dan berharap bahwa Freddie akan berubah. Tapi itu hanya harapan yang mustahil terwujud. Bahkan Freddie tidak berniat segera mencari pekerjaan. Freddie berpikir orang tuanya cukup kaya dan ia tidak perlu bekerja.

Sarah semakin tertekan. Apalagi Freddie selalu pulang dalam keadaan mabuk. Dan Sarah begitu sengsara. Sekalipun ia menegur Freddie dan memarahinya, Freddie tidak menunjukkan akan berubah demi rumah tangga mereka.

Kemudian Sarah hamil. Dan Sarah mulai berharap Freddie akan berubah dengan kehadiran seorang anak. Namun sebaliknya, Freddie merasa sial, ia tidak menginginkan anak dalam pernikahannya. Baginya seorang anak hanya akan merepotkan. Sarah begitu sedih dengan sikap Freddie. Dan ia tidak bisa berbuat apa-apa dengan hal tersebut.

Kesedihan Sarah semakin lengkap ketika ia keguguran. Dan Sarah mulai membenci Freddie. Namun Sarah tidak pernah berpikir untuk bercerai. Ia beranggapan cerai adalah aib bagi keluarganya, terlebih karena tidak ada anggota keluarganya yang pernah bercerai sebelumnya. Sarah berniat mempertahankan pernikahan dan menanggung penderitaan seorang diri.

Sampai akhirnya ayah Sarah begitu marah mendapati Freddie bersama perempuan lain (pelacur) ketika pesta perayaan satu tahun pernikahan Freddie dan Sarah. Ayah Sarah mengusir Freddie dan berjanji kepada Sarah untuk mengurus perceraian mereka. Di saat itulah Sarah menceritakan semua kesedihannya kepada ayah dan ibunya.

Selepas itu Sarah bertapa. Ia tinggal di sebuah rumah di Southampton dan menghabiskan waktunya sendirian selama setahun. Sarah tertekan dan hanya ingin sendirian. Bahkan ia berencana hidup sendiri dan membeli sebuah rumah dan kebun di daerah terpencil. Ia bersikeras dengan keinginannya tersebut.

Akhirnya orang tua Sarah memaksanya untuk berlibur keliling eropa. Walaupun awalnya Sarah menolak mentah-mentah ide tersebut, akhirnya Sarah setuju dengan perjalanan tersebut.

Dalam perjalanannya, Sarah merasa sangat bosan. Ia bertemu dengan lelaki-lelaki konyol yang ingin menjadi suaminya. Dan Sarah sudah muak dengan perjalanan tersebut. Sampai ia bertemu dengan William Whitfield dan mulai jatuh cinta. Sayangnya, William adalah Duke of Whitfield, pewaris ke-14 tahta kerajaan Inggris. Dan Sarah terlalu malu dengan dirinya sendiri yang merupakan janda.

Pertaruhanya terlalu besar. Jika William menikahinya, maka William akan kehilangan hak pewaris tahta kerajaan. Sarah tidak ingin hal tersebut terjadi, juga karena tidak mau William mengorbankan banyak hal dalam hidupnya hanya untuk Sarah. Sarah menjauhi William dan berusaha menjaga jarak. Sarah pun terluka. Dan ia tidak tahu bagaimana ia bisa terluka dengan begitu mudahnya.

Tapi William sangat keras kepala. William menyusul Sarah ke Italia dan meyakinkan bahwa semua ketakutan Sarah tidak mengubah apapun. Bahkan William telah mendapat restu dari ibunya. Dan akhirnya Sarah menerima lamaran William. Mereka akan melangsungkan pernikahan di bulan desember selanjutnya.

Pernikahan antara Sarah dan William merupakan awal kebahagiaan mereka. Saat mereka berbulan madu di Perancis, mereka berdua menemukan puri tua berumur 200 atau 300 tahun. Tapi puri itu rusak berat dan membutuhkan banyak perbaikan. William tidak begitu tertarik dengan puri tersebut. Sebaliknya, Sarah merasa cukup mampu membuat keajaiban untuk merenovasi puri tua tersebut. Namun Sarah tidak lagi begitu tertarik ketika memikirkan berapa banyak uang yang harus dikeluarkan William untuk puri tua tersebut.

Baru di hari natal Sarah benar-benar bahagia. Puri impiannya, Chateau de la Meuze merupakan hadiah dari William. Padahal William mendapatkannya dengan harga murah. Tetap saja, Sarah seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah istimewa. Sedangkan Sarah menghadiahi William dengan kabar kehamilannya. Pada malam natal tersebut, keduanya benar-benar merupakan pasangan berbahagia yang saling mencintai.

Setelah menyelesaikan segala urusan di inggris, di bulan maret, Sarah dan William memperbaiki puri impian Sarah. Pekerjaan besar-besaran selama berbulan-bulan pun berbuah manis karena puri itu kembali cantik. Meskipun untuk detailnya mereka masih butuh lebih banyak waktu lagi.

Di puri itulah Sarah melahirkan putra pertama mereka dengan bantuan William. Sayangnya, di hari berbahagia tersebut, Prancis dan Inggris mengumumkan perang dengan Jerman. Sebagai Duke, William harus meninggalkan Sarah untuk melaksanakan kewajiban militer. William pun pergi meninggalkan Sarah dan putranya untuk mengabdi kepada Inggris.

Keadaan masih terkendali. William sesekali mengunjungi Sarah. Lalu Sarah hamil untuk kedua kalinya. Mereka berdua sangat berbahagia atas hal tersebut, namun William tetap harus meninggalkan mereka berdua demi negaranya.

Tak berselang lama, pasukan Jerman menduduki Prancis. Sarah diusir dari rumahnya oleh tentara Jerman. Ia tinggal di pondok kecil di dekat Puri dan menjadi tawanan pasukan Jerman.

Lizzie, anak kedua Sarah, lahir dengan selamat. Dan sehat. Dan Sarah senang hal tersebut karena mengira Lizzie mati saat proses kehamilan.

Di tengah peperangan, Sarah mendapat kabar bahwa William telah hilang di medan perang. Meskipun ada sumber yang mengatakan William telah tiada, Sarah bersikeras bahwa William masih hidup di suatu tempat. Namun tahun berganti dan tidak ada kabar dari William. Bahkan Sarah mendapat kabar bahwa kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan. Lalu Sarah juga kehilangan Lizzie karena suatu penyakit. Selama 4 tahun tersebut, penderitaan dan kesedihan terus menghampiri Sarah.

Lalu keadaan mulai membaik. Pasukan Amerika membebaskan Prancis dari Jerman. Untuk pertama kalinya Sarah akhirnya bebas dan bisa kembali ke Inggris. Saat Jerman telah ditundukkan, ada kabar lainnya, William berhasil ditemukan, dalam keadaan sekarat. Dokter-Dokter terbaik berusaha menyelamatkan hidupnya dan ketika harapan mulai memudar, untuk pertama kalinya Sarah kembali merasa bahagia setelah mengalami masa sulit yang panjang. William selamat meskipun kedua kakinya tidak lagi berfungsi.

Sarah dan William kemudian berbahagia. Mereka mendapat tiga buah hati setelah itu. Selain itu, mereka pun mulai membuka bisnis toko permata di Paris. Dan tidak ada tahun-tahun yang menyenangkan yang dilalui Sarah dibanding saat bersama William.

Di usia ke-61 William akhirnya menghebuskan nafas terakhirnya karena sakit. Bekas-Bekas luka dari masa perang membuat tubuhnya tidak mampu bertahan. Di pelukan Sarah, William kembali ke Penciptanya dengan damai.

Sarah bersedih, namun tidak dalam waktu lama. Anak-anaknya membuat dia sibuk, begitu pula bisnis tokonya. Pada akhirnya, di ulang tahun yang ke-75, semua anak dan cucunya hadir mengunjunginya. Ketika ia menutup matanya, bayangan William kembali hadir. Ia merasa bahwa 75 tahun dalam hidupnya terasa begitu cepat dan ia bersyukur atas anugrah kehidupannya.

Kelebihan Buku Jewels

Seperti buku-buku Danielle Steel lainnya, Jewels mengisahkan kehidupan yang benar-benar mengagumkan. Kehidupan mungkin berjalan tidak sesuai rencana, namun kita tidak boleh putus asa.

Menyimak kehidupan Sarah yang begitu berwarna, banyak pelajaran hidup yang bisa diambil dari buku ini. Terutama tentang gairah masa muda yang konyol dan keputusan-keputusan bodoh. Tapi semua manusia melakukan kesalahan. Dan tentu saja, mereka yang berani mengakui kesalahan dan mengambil pelajaran adalah pemenang yang sesungguhnya.

Kisah di buku Jewels ditulis dengan sangat baik. Bahkan akan mampu membuat pembacanya bersedih, terharu, dan merasakan emosi-emosi tertentu. Pantas saja jika buku Daniell Steel telah beredar lebih dari 300 juta eksemplar di seluruh dunia dan mendapat penghargaan dari Guiness Book of Record.

Kekurangan Buku Jewels

Bagi pembaca seperti saya, hal yang paling membingungkan adalah segala bentuk deskripsi kemewahan yang dimiliki tokoh-tokoh dalam buku ini. Saya tidak mampu membayangkan benda-benda bernilai jutaan dollar seperti batu zamrud, berlian, atau nama-nama keluarga terkaya yang banyak disebut di buku ini.

Atau karakter-karakter tokohnya yang begitu luar biasa. Sulit membayangkan menemui orang-orang yang dikisahkan dalam buku ini.

Walaupun saya sering membaca buku-buku fiksi, biasanya saya memiliki gambaran yang jelas mengenai karakter, tempat, dan tokoh-tokoh di dunia nyata. Namun buku ini berada di dimensi lain yang sulit saya temui di kehidupan nyata.

Nilai

Saya memberi nilai 79 untuk karya Danielle Steel yang satu ini. Setidaknya buku ini tidak pernah membosankan. Bahkan saya harus mencuri waktu di malam hari karena lupa pada beberapa detail pada kisah Jewels. Setidaknya sudah 7 tahun lalu saya menyelesaikan buku ini dan meskipun demikian, buku ini tetap mengagumkan seperti saat pertama kali membacanya. Luar biasa.

Iklan

13 tanggapan untuk “Review Buku Jewels By Danielle Steel

  1. Wow… Novel Danielle steel…Kesukaan almarhum papa aku. Di rmh byk peninggalan beliau,tapi gak ada yg baca.
    Baca review nya mas shiq bikin aku jd penasaran mau baca, sepertinya bagus.

    Suka

  2. Oya, maaf, bagaimana kaitan antara judulnya (jewels=permata) dengan kisah hidup Sarah yang pergumulannya datang silih berganti itu? Saya kurang paham untuk itu, walau ceritanya sangat seru untuk dibaca. Apa hanya berhubungan dengan bisnis toko permata yg dikelolanya bersama William di Paris itu? Atau permata itu adalah gambaran pribadi Sarah yang sangat baik dan tegar meski hidupnya beberapa kali tak sesuai impian, karena kemalangan/kepahitan juga kebahagiaan yg dialaminya itu?

    Oya, sedikit konyol, maksud Anda, andai wanita seperti Sarah itu ada di di dunia nyata dan kisah ini juga bukan fiktif, Anda mau melamar Sarah pasca bercerai dengan Freddie? Soalnya kalau pasca William meninggal, Sarah dah emak2, dong? ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s