Sebuah Cinta di Pulau Tak Berpenghuni (06)

Pasangan romantis di pulau tak berpenghuni
Sumber gambar : cermati.com

Bagian satu klik di sini.

Bagian dua klik di sini.

Bagian tiga klik di sini.

Bagian empat klik di sini

Bagian lima klik di sini

Sudah beberapa jam Thomas menjelajahi hutan. Namun ia tetap tidak menemukan makanan. Rasa malu sebagai lelaki yang bertanggungjawab atas keselamatan wanita tidak banyak membantu. Hari mulai sore. Dan Thomas menyerah. Ia kembali ke “Markas” dengan putus asa.

Sementara itu ditempat lain, sesosok wanita tidak beranjak dari tempat duduknya. Ia terus menatap ke arah hutan, tempat Thomas pergi beberapa waktu lalu. Persediaan makanan yang semakin menipis ikut membuat Vina khawatir. Dan ya…. Vina menyadari tidak mampu berbuat apapun. Ia hanya berdo’a agar Thomas membawa sesuatu.

Tapi tidak semua do’a akan terkabul. Vina menyadari hal itu ketika melihat sosok Thomas berjalan lunglai di kejauhan. Thomas terlihat tidak membawa apapun. Perlahan tapi pasti, sosok itu mulai mendekat. Dan Vina masih berpura-pura untuk tidak khawatir dengan keadaan mereka.

“Aku sudah menjelajahi hutan, tapi tidak ada tanda-tanda makanan lagi” Thomas mengatakannya dengan nafas tersengal-sengal.

“Tidak apa-apa. Seperti yang kau katakan, makanan kita cukup sampai besok pagi. Mungkin jika aku ikut ke hutan bersamamu kita akan menemukan makanan. Terkadang wanita adalah pembawa keberuntungan, kau tahu?” Vina mengatakan dengan tertawa ringan.

Thomas tidak tahu apakah wanita di depannya serius atau bercanda, tapi Thomas tidak peduli. Meskipun ada kemungkinan hal-hal konyol semacam itu benar-benar terjadi di dunia ini.

“Santailah tuan Thomas. Makanlah dulu. Kurasa kau belum makan sejak siang tadi” Kali ini Vina mengatakannya dengan lembut.

Thomas merasa kesal. Entah mengapa wanita di depannya selalu membuatnya seperti itu. Tapi Thomas juga sudah merasa lapar. Dan ia langsung duduk di tumpukan pisang yang mereka kumpulkan di hari pertama, kemudian mengambil beberapa, lalu memakannya satu per satu.

Dengan mulut dipenuhi pisang, Thomas menatap Vina yang duduk di sebelahnya “Apakah kau tidak makan Vin? Ini masih cukup banyak.”

“Aku sudah memakannya tadi siang. Jangan terlalu perhatian. Aku tahu apa yang harus kulakukan dan Aku tidak perlu ijin darimu untuk memakannya” Vina kemudian berdiri.

“Aku ingin jalan-jalan sebentar. Nikmati makananmu.” Lanjut Vina.

Thomas semakin kesal dengan ucapan Vina. “Mungkin dia bukan seperti wanita pada umumnya. Sial” pikir Thomas. Dan ia melihat Vina berdiri dan menjauh. Vina berjalan menyusuri tepi pantai.

Satu-satunya yang tidak diketahui Thomas adalah kenyataan bahwa Vina mempercayainya. Vina merindukannya. Meskipun entah bagaimana Vina tidak pernah menunjukkan sikap seperti yang seharusnya.

******************

Halilintar bersautan. Angin menjadi kencang. Pohon-Pohon tampak miring karena tertiup angin. Secara perlahan awan mulai menjadi lebih gelap dari biasanya. Tak lama kemudian hujan mulai turun perlahan. Dan kemudian secara ajaib hujan lebih deras dibanding hujan tadi pagi.

Dua anak manusia meringkuk di bawah pepohonan kelapa. Seperti anak ayam yang ditinggalkan induknya, mereka berdua tidak tahu harus berbuat apa.

“Tadi siang aku rela tersengat matahari agar bajuku kering. Ternyata sia-sia. Pada akhirnya malam ini hujan lagi” Vina tersenyum sinis.

“Ini memang hari terburuk kita selama hidup di pulau ini. Tapi tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Dewasalah….” Kali ini Thomas mencoba bersikap kasar. Ia ingin tahu bagaimana wanita di depannya bersikap jika diperlakukan seperti itu.

“Kau benar. Ini hari terburuk kita. Tapi aku sudah dewasa. Kalau aku telanjang di depanmu, aku yakin kau akan terangsang.”

“Dia benar-benar sudah gila” pikir Thomas. Dan Thomas hanya terdiam tidak menyahut lagi. Sementara itu wanita di depannya tertawa-tawa di tengah hujan yang tampaknya akan semakin lebat lagi. Ingatan Thomas kembali ke masa di mana ia secara tidak sengaja melihat Vina mandi. Bayangan itu muncul begitu saja. Thomas merasa menang.

“Kau memang benar. Ketika kau telanjang aku menikmatinya. Dan aku tidak akan mengatakannya kepadamu.” Pikiran Thomas yang semacam itu membuatnya tersenyum kecil.

Dan selanjutnya mereka terdiam. Kejadian mirip seperti ketika hujan tadi pagi. Keduanya mengigil kedinginan. Bagian terburuknya, ini sudah gelap dan tidak ada lagi matahari untuk mengeringkan pakaian mereka setelah hujan reda nanti.

**********************

Hujan mulai reda 120 menit kemudian. Seperti de javu, baik Thomas dan Vina tidak mengatakan apapun. Keduanya hanya terdiam seperti kejadian tadi pagi. Vina mencuri pandang ke arah Thomas, sayangnya, secara kebetulan, mata Thomas memergoki mata Vina yang mencuri-curi pandang. Vina kemudian menunduk. Malu. Dan bibirnya bergetar karena kedinginan.

Namun Thomas mengartikan lain pandangan Vina tersebut. “Jangan-Jangan ia takut kepadaku seperti waktu itu” pikiran Thomas melayang di saat Vina ketakutan kepadanya dan mengatakan akan membunuhnya jika ia macam-macam dengannya. Mengingat keadaan mereka di pulau tak berpenghuni seperti ini, Thomas memaklumi ketakutan Vina. Dan sepertinya keparnoan Vina kambuh lagi malam ini.

“Aku ingin mencari angin dulu. Lagipula aku bosan di sini.” Thomas berdiri dan berjalan begitu saja.

“Jangan jauh-jauh….” Vina menyahut dengan sendirinya. Ia keceplosan.

“Siapa tahu aku akan haus. Aku tidak bisa memanjat pohon kelapa sendiri” Vina berpura-pura untuk menutupi kesalahan yang baru saja ia perbuat.

“Aku tidak akan kemana-mana Nona, hanya mencari angin sebentar. Kukira kau selalu takut kalau aku akan berbuat macam-macam kepadamu” Thomas melampiaskan kekesalannya dan segera pergi.

Vina terkekeh dengan jawaban Thomas. Sendirian. Mengingat kembali mimpi buruk yang pernah datang kepadanya. Ia senang karena mimpi buruk itu tidak menjadi kenyataan. Thomas orang baik. Dan Vina yakin Thomas tidak akan berbuat jahat kepadanya.

Sedangkan Thomas sudah menjauh. Thomas kedinginan. Untungnya malam itu tidak mendung, ketika Thomas mengangkat kepalanya ke atas, Ia melihat bulan bersinar terang. Juga banyak bintang. Seandainya ini sebuah liburan, tentu Thomas akan sangat menikmati keindahan alam seperti yang dilihatnya. Namun ia sedang tidak berlibur. Ia terdampar. Dan itu membuat Thomas tidak memikirkan hal lainnya selain jumlah pisang yang semakin sedikit.

Thomas masih berjalan menyusuri pantai. Sampai Ia merasa lelah, kemudian ia duduk di pasir begitu saja. Ia tahu celana atau bajunya akan kotor karena masih basah sehingga pasir-pasir di sekitarnya akan menempel, tapi siapa yang akan peduli pada kebersihan di pulau terpencil seperti ini? Tidak ada. Bahkan Thomas mengambil posisi tidur, membiarkan matanya melihat ke arah langit. Namun satu-satunya kenyataan adalah ia tidak peduli dengan apa yang dilihatnya, melainkan berpikir tentang menyebrangi laut menggunakan batang pohon pisang. Ia meyakini bahwa itu adalah satu-satunya kesempatan seandainya tim penyelamat tidak menemukan mereka.

Thomas juga membayangkan seandainya Vina menjadi wanita yang menyenangkan, tentu itu anugrah yang indah. Namun ketika Thomas kembali mengingat sikap-sikap Vina, ia membuang jauh-jauh khayalannya. Meskipun ia mengakui bahwa Vina termasuk wanita yang cantik dan pernah membuatnya terangsang dan berpikir yang tidak-tidak.

“Kau cantik sekali, kalau saja kau punya sikap yang baik, tentu aku akan merasa beruntung terdampar di pulau tak berpenghuni bersamamu” Gumam Thomas. Satu-satunya yang tidak disadari Thomas adalah hatinya secara ajaib sebenarnya menyukai Vina. Hanya saja ia malu untuk mengakuinya. Bahkan kepada dirinya sendiri. (Bersambung….)

Iklan

11 tanggapan untuk “Sebuah Cinta di Pulau Tak Berpenghuni (06)

      1. Aaaaseeeekkkkkk, seneng deh kl bca crbung yg happy happy hihi.

        Akhirilah dg cinta..dg sesuatu yg brkesan, shgga nnt kl ada kejadian serupa yg dialami pembaca, dia spertinya merasa dejavu. Katanya cerita yg bgnilah yg dianggap berhasil dan sukses

        Suka

  1. Mas Shiq4, mantap banget cerbung Anda ini, saya sangat menikmati sekali membacanya. Saya suka dengan gaya Anda bercerita dan diksi yang Anda gunakan. Mengalir, sangat imajinatif dan selalu bikin penasaran para pembaca.

    Endingnya bakal gimana ya? Lebih seru kayaknya kalau 2 insan itu pada akhirnya terjadi “hal-hal yang tak diinginkan”, tapi dibungkus dengan filosofi yang bisa dipertanggungjawabkan, wkwkw ….

    Suka

    1. Itu dulu maunya seperti itu, terjadi hal-hal yang tak diinginkan, tapi kemudian saya berubah pikiran. Ada adegan dari film kartun shokugeki no souma dan saya rasa romantis, kemudian saya sesuaikan dgn cerita saya.

      Soalnya klo ada adegan begituannya tidak mencerminkan budaya bangsa timur dan seharusnya saya tetap mematuhi norma tersebut.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s