Gunakan Kata “Bloger”, Bukan “Blogger”

Kata yang benar Bloger, Bukan Blogger
Sumber gambar : dedezire.com

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel dari azizatoen.wordpress.com dan menemukan kosakata baru, yakni “bloger”. Sebenarnya ada keraguan tentang kosakata tersebut mengingat saya sudah familiar menggunakan kata “blogger” selama bertahun-tahun.

Saya kemudian mencari kata “bloger” dan “blogger” di aplikasi KBBI di smartphone saya dan tidak menemukan keduanya. Begitu pula ketika menggunakan KBBI online yang disediakan banyak website, kedua kata tersebut masih belum tersedia.

Atas petunjuk azizatoen, akhirnya saya meluncur ke kbbi.kemdikbud.go.id dan menemukan kata “bloger” sebagai kata baku. Bukan “blogger”. Kata “bloger” sendiri berarti sebutan untuk orang yang mengeblog; pengeblog.

Jadi, saya punya dua poin penting yang harus diperhatikan. Pertama, gunakan kamus dari kbbi.kemdikbud.go.id untuk mencari kata yang terdaftar karena lengkap dan terupdate dengan baik. Kedua, mulai saat ini mari kita gunakan kata yang benar, yakni bloger.

Peluang dan Risiko

Hasil pencarian kata bloger

Ga​mbar di atas adalah hasil pencarian yang memakai kata kunci dengan menyertakan kata “bloger”. Sepertinya kata “bloger” belum terlalu populer sehingga Google menampilkan hasil untuk kata “blogger”. Begitu pula ketika saya mencoba menggunakan kata “bloger” dengan variasi lainnya, hasilnya sama saja.

Sudah sejak lama batin saya tersiksa karena sering memakai kata baku. Sebut saja kata “praktik” yang kalah populer dengan kata “praktek” (begitu pula dengan kata baku lainnya). Dilihat dari segi bahasa, seharusnya kata baku yang tampil di halaman hasil pencarian. Nyatanya, yang tampil malah kosakata yang salah. Itu pertanda bahwa jumlah orang yang memakai kata tidak baku lebih banyak daripada orang yang memakai kata baku. Dan Google secara otomatis menganggap pengguna salah ketik ketika mencoba mencari konten sesuai dengan kata baku.

Jadi, risiko bagi kita yang berusaha menerapkan penggunaan bahasa yang benar dalam tulisan kita adalah berkurangnya pengunjung ke blog kita. Itu juga mengapa saya agak ragu-ragu mulai menulis dan memakai kata “bloger”.

Halaman saya banyak yang sudah menjaring pengunjung dengan embel-embel kata “blogger” di judul dan paragraf yang terbentuk. Takutnya, ketika saya mulai menggunakan kata “bloger”, maka tulisan saya tidak akan tampil di halaman pertama Google karena banyak orang yang masih mencari informasi dengan menggunakan kata “blogger”, bukan “bloger”.

Tapi ada peluang besar. Seandainya kata “bloger” menjadi populer dalam beberapa tahun mendatang mengalahkan kata “blogger”dan saya sudah memakainya dari sekarang, maka bisa dipastikan banyak halaman saya yang akan duduk di halaman pertama Google karena menjadi yang pertama menerbitkan konten dengan menggunakan kata “bloger”.

Jadi, peluang dan risiko berjalan beriringan. Pilihan apa yang Anda pilih? Mulai menggunakan kata “bloger” dan berharap kata tersebut populer di masa mendatang atau tetap menggunakan kata “blogger” dan mendapatkan pengunjung yang stabil di masa sekarang?

Saya Adalah Penulis

Saya belum pernah menulis buku best seller. Dan masih belum ingin menyusun buku. Tapi saya selalu beranggapan bahwa saya adalah penulis. Setidaknya penulis konten blog. Dan sudah menjadi tanggung jawab penulis untuk menggunakan kata yang benar dan tepat sesuai kaidah bahasa yang berlaku.

Pengalaman menulis saya masih sangat sedikit. Kosakata pun masih minim. Tapi saya selalu belajar menghasilkan tulisan yang bagus. Dan semua itu dimulai dengan menggunakan kata-kata baku. Jadi, saya mengambil risiko untuk menggunakan kata “bloger” pada karya-karya saya selanjutnya.

Lagipula saya ngeblog hanya untuk kepuasan pribadi. Bukan masalah besar seandainya tulisan saya tidak tampil di halaman pertama Google. Seandainya blog shiq4 ditakdirkan tidak berkembang di kemudian hari dan jarang mendapat kunjungan, saya pasti tetap akan mengupdatenya. Untuk koleksi pribadi dan dinikmati sendiri.

Lalu, Apa yang Anda lakukan? Ikut mengambil risiko dan peluang di atas dengan memakai kata “bloger”di konten blog atau tetap menggunakan kata “blogger”?

38 tanggapan untuk “Gunakan Kata “Bloger”, Bukan “Blogger”

    1. Klo bukan penggemar sastra memang cukup dimengerti pembaca sudah cukup. Tapi bagi saya yg baru belajar sastra, sudah kewajiban untuk mulai menggunakan kata yg benar he he he…..

      Disukai oleh 1 orang

  1. Menurutku kata yang tepat adalah Blogger. Alasan pertama : kata ini sudah disahkan secara Nasional dengan dipakainya pada Hari Blogger Nasional yang ditetapkan sejak tahun 2007 yang jatuh setiap tanggal 27 Oktober, ditetapkan oleh Menteri Pendidikan. Alasan kedua : bisa saja ini adalah kata dalam bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia karena banyak sekali kata2 dalam bahasa Indonesia yang serapan dalam bahasa asing. Contohnya rapper. Dalam bahasa Inggris sendiri, yang tertulis adalah blogger bukan bloger, yang artinya adalah a person who keeps and updates a blog. Jadi Blogger lebih tepat daripada Bloger, in my opinion.

    Suka

    1. Tambahan : setelah berselancar kesana kemari, ternyata memang benar kata blogger sudah diserap menjadi bloger dan sudah ada dalam KBBI IV. Padanan kata bloger adalah narablog. Thanks tulisannya jadi ikutan belajar juga mana yang benar.

      Suka

      1. Iya mbak denald, kata serapannya udah jadi bloger saja. Saya aja mikirnya kok udah telat banget mempopulerkan kata bloger. Sedangkan semua orang sudah akrab dengan blogger. Jadi lebih sulit membuat kata bloger bisa diterima secara luas.

        Suka

  2. Baca postingan ini dan baca komenan nya jadi nambah ilmu, aku masih nyebut blogger sih mas. Kadang aku plesetin nulisnya jadi blohher. Alasannya? Gakpapa sih, biar terlihat santai dan gak kaku aja hahaha

    Suka

    1. Klo bisa mulai sekarang make bloger saja mbak fasya. Biar bahasa indonesia cepat berkembang dan punya banyak kata. Ntar kita juga yg bisa bangga dengan bahasa indonesia.

      Suka

    1. Ya mulai diri sendiri. Ntar yang lain biar ngikutin kita. Tapi saya seneng dapat kata baru. Soalnya banyak kata yang sering salah eja. Ini dikit2 mau menggunakan kata baku seterusnya.

      Disukai oleh 1 orang

  3. Mungkin klo blogger itu istilah dr bahasa asing kali ya, klo bloger baru indonesia-nya. Tapi perasaan pernah liat juga penulisan ‘bloger’ di artikel indonesia, cuma waktu itu ga ngeh g-nya cuma satu, tapi ya baik blogger atau bloger artinya sama aja

    Suka

    1. Iya klo maksudnya sih sama aja. Cuman klo kita nggak menggunakan bahasa indonesia dg baik, lama2 bahasa bisa mati. Masak iya ntar kita malah menggunakan bahasa inggris di Indonesia? Kan nggak lucu.

      Suka

      1. Iya emang, klo sama guru bahasa Indonesia pasti bakal dimarahin salah penulisan gitu, ky yg kmrn Shiqa bahas ttg penulisan praktek dan praktik, apotek&apotik dll.

        Btw mana nih lanjutan tulisan yg terdampar di pulau itu?? Aku nunggu2 nih kelanjutan critanya

        Suka

  4. mestinya gak masalah ya pake kata blogger. toh kita emang kalo nulis kebanyakan bahasanya campur2 kan… gak semuanya bahasa indo yang baku. bahkan di novel2 sekarang pun juga lazim menyelipkan kata bahasa lain… 😀

    Suka

    1. Iya juga sih. Cuman saya pinginnya suatu saat nulis e-book berbayar dan mewajibkan diri nulis yg benar. Dimulai dari penggunaan kata baku biar tulisannya indah he he he…….

      Suka

  5. Thx ulasannya.Tapi apapun itu ,kita sebagai bangsa Indonesia harus lebih berbahasa Indonesia ketimbang bahsa Indonesia dengan logat ke barat baratan.Malu sm Jepang,China,Arab,India kalau berbicara asing tetap logat negaranya ketara.sekedar share aj.hehe

    Suka

  6. ane udah kebiasaan make istilah blogger sih, lagian ane nganggepnya ‘blogger’ lah yang merupakan kata adaptasi.
    Btw. banyak ejaan dan kata baru, ya? Contohnya kayak galat, bakda dan bloger ini

    Suka

  7. bagaimana pendapat kakak dengan kata ‘stuck’ ? saya pernah baca disalah satu tulisan yang menulis ‘stuck’ menjadi ‘stak’. saya juga pernah pakai kata itu, tapi saya tidak tahu kebenarannya seperti apa ._. mohon opininya ya kak ! 🙂

    Suka

    1. Wah saya belum pernah denger tuh. Saya baru dalam dunia tulis menulis. Biasanya sih tinggal liat kamus, klo ada di kamus berarti udah jadi kata baku yg benar.

      Disukai oleh 1 orang

Komentar ditutup.