Sebuah Cinta di Pulau Tak Berpenghuni (04)

Pasangan romantis di pulau tak berpenghuni

Sumber gambar : cermati.com

Bagian satu klik disini.

Bagian dua klik disini.

Bagian tiga klik disini.

Namun benar-benar terjadi keajaiban. Tangan Vina kosong, tanpa pisau. Seketika itu pula Vina mulai panik dan melihat sekitarnya. Entah bagaimana, pisau tersebut berada di pasir tak jauh dari tempatnya tidur. Vina tergesa-gesa mengambil pisau tersebut dan mencari tubuh Thomas untuk dihujani tusukan. Sayangnya, Vina menemukan Thomas masih tertidur di tempatnya.

Vina meraba pakaiannya dan tidak ada yang robek. Kancingnya masih utuh. Begitu pula dengan sarung yang ia kenakan sebagai selimut, masih melindungi tubuhnya dari dinginnya malam. Ternyata hanya mimpi buruk. Mimpi terburuk yang pernah hadir di kehidupannya. Vina kemudian tertawa sendiri seperti orang gila ketika mengingat mimpinya.

“Puji Tuhan ini hanya mimpi buruk. Kau memang orang baik Thomas. Dan tidak mungkin kau akan melakukannya.”

Vina memandang ke sekitarnya. Masih terlalu pagi untuk beraktivitas. Mungkin masih pukul 4 pagi. Lagipula dia memang tidak punya rencana apapun hari ini. Vina berhenti tertawa dan memikirkan semua kejadian beberapa hari terakhir.

Ia adalah manajer pemasaran bank swasta di kota Surabaya beberapa hari lalu. Tapi kapal yang ditumpanginya tiba-tiba tenggelam dan kini ia harus bertahan hidup di pulau tak berpenghuni bersama pria bernama Thomas. Semua kejadian dua hari terakhir yang ia lalui bersama Thomas tiba-tiba terlintas di kepalanya. Untuk pertama kalinya sejak Vina terdampar, Ia ingin menangis.

Dalam dinginnya pagi, Vina benar-benar menangis sesengukkan. Betapa pun ia tegar, pikirannya takut jika tim penyelamat tidak menemukan mereka. Kemungkinan mati di pulau tak berpenghuni terus menghantuinya. Dan pagi itu, ia terus menangis seorang diri.

***********

Thomas terbangun lebih pagi dari biasanya. Anehnya, Thomas selalu mendapati Vina bangun lebih dulu seperti biasanya. Thomas tiba-tiba heran dan merasa bingung ketika memandang Vina. Pandangan Vina kosong menuju ke arah laut. Dan matanya terlihat basah.

“Apakah Vina menangis? Apakah Vina bersedih?” Pikiran Thomas berusaha mencerna apa yang baru saja ia lihat. Vina wanita yang tangguh. Setidaknya selama 2 hari Vina benar-benar melakukan apa yang harus dilakukan. Thomas melangkah mendekati Vina.

“Apakah ada sesuatu yang salah? Mungkin aku bisa membantu.”

“Hai kau sudah bangun rupanya. Tidak ada. Aku hanya menangisi keadaan kita. Bagaimana jika tidak pernah ada tim penyelamat? Dan kita terperangkap selamanya di pulau terkutuk ini?” Vina mendongak menatap mata Thomas.

“Itu tidak mungkin. Kalau sudah seminggu dan tidak ada tim penyelamat, kita bisa merobohkan sebatang pohon dan kita bisa menaikinya berenang ke pulau terdekat. Dan begitu seterusnya sampai kita menemukan orang yang mau menolong kita. Mudah, kan?

“Kau konyol. Bagaimana jika tidak berhasil?”

“Menurutku ketakutanmu berlebihan. Tim penyelamat pasti menemukan kita. Dan jika mereka tidak datang, mungkin kita berdua bisa menikah dan membangun peradaban sendiri di pulau ini. Bagaimana menurutmu?” Thomas berusaha bercanda dan mencairkan suasana.

“Itu tidak mungkin. Aku tidak akan menikahi pria yang tidak kukenal. Lebih baik aku mati saja.” Vina berkata sambil tertawa riang. Ia tahu bahwa kemungkinan tersebut ada. Dan mungkin saja ia benar-benar menikahi Thomas jika terjebak selamanya.

“Bagaimana kalau kita mencari makanan lagi di hutan? Aku sudah bosan dengan pisang” Vina melanjutkan perkataannya.

“Mungkin itu buruk. Lebih baik aku saja yang pergi mencari makanan. Kau tetap di sini untuk menunggu tim penyelamat”

“Tidak apa-apa. Ini masih terlalu pagi bagi tim penyelamat untuk mencari kita. Setidaknya kita punya waktu 2 sampai 3 jam. Kemudian kita bisa kembali ke mari. Dan tidak akan ada yang terlewat. Aku sudah bosan menunggu” Vina meyakinkan Thomas.

“Baiklah kalau begitu. Mari kita pergi sekarang juga” Thomas mengulurkan tangannya. Vina menerima uluran tangan tersebut dan bangun dari duduknya. Thomas berjalan lebih dahulu dan Vina menguntit di belakang. Mereka kembali masuk ke hutan.

***********

Sudah satu jam Thomas dan Vina berjalan menyusuri hutan. Namun tidak ada tanda-tanda ayam maupun buah-buahan. Mereka sudah mulai lelah. Mereka hanya berjalan tanpa tujuan.

“Ahhh…. “ Tiba-tiba Vina menjerit.

Thomas menghentikan langkahnya. “Ada apa Vin?” Thomas melihat Vina memegangi jari telunjuknya. Tak jau dari Vina, Thomas melihat ular berwarna hijau melilit di sebatang pohon di dekat Vina.

“Sepertinya aku digigit ular”

“Dimana pisaunya Vin?”

“Aku tidak membawanya. Kutinggalkan di bawah pohon kelapa”

Tanpa basa-basi Thomas merobek bajunya. Kemudian mengikat jari telunjuk Vina dengan sobekan baju tersebut. Lalu Thomas menekan Jari telunjuk itu kuat-kuat. Dan darah berwarna agak hitam keluar dari bekas gigitan ular itu.

“Sebaiknya kita kembali. Dan kau harus segera minum kelapa. Katanya kelapa bisa menawarkan racun.”

“Aku tidak apa-apa Thomas. Kita lanjutkan saja mencari makanan”

“Untuk kali ini turuti aku. Jika ular itu berbisa, maka kau dalam masalah besar. Kau harus segera minum kelapa” Thomas berjalan terlebih dahulu. Dan tanpa di perintah, Vina mengikuti langkah-langkah Thomas.

Setengah jam kemudian mereka kembali ke pepohonan kelapa. Thomas langsung memanjat pohon kelapa dan menjatuhkan sebuah kelapa. Lalu Thomas menggunakan pisau yang tergeletak di pasir untuk membuat sebuah lubang tepat di bagian atas kelapa seperti biasanya. Ia lalu menyuruh Vina meminumnya.

Vina menurut saja dan meminum kelapa tersebut. Setelah itu Thomas secara mengejutkan Thomas memegang tangan Vina.

“Aku akan menyobek bekas gigitan ular dengan pisau agar semua racun bisa keluar. Tahanlah sedikit rasa sakitnya”

Vina tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun ia menurut saja dengan Thomas. Setelah itu dengan sedikit sentuhan pisu, jari telunjuk Vina mengeluarkan darah yang lebih hitam dari sebelumnya. Dan kemudian Thomas menekan jari telunjuk Vina kuat-kuat sama seperti sebelumnya.

“Au… rasanya sakit”

“Tidak apa-apa. Mungkin semua racunnya sudah keluar” Thomas menyobek lagi bajunya dan kali ini Thomas mengusap bekas sayatan kecil di jari telunjuk Vina dengan sobekan baju tersebut.

“Lebih baik kau tetap di sini saja. Biar aku yang menjelajahi hutan untuk mencari makanan”

Vina mengangguk. Dan Thomas berjalan dengan sangat cepat kembali masuk hutan. Vina kemudian duduk di tempat biasanya dan mengambil beberapa pisang. Ia menikmat pisang sambil melihat deburan ombak di pantai. Namun, tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Vina kemudian berbaring beralaskan sarung dan memakai batok kelapa sebagai bantal. Sebelum benar-benar tidur Vina dipenuhi kebimbangan apakah kantuk yang menyerangnya karena ia tidur terlalu singkat tadi malam atau karena efek gigitan ular.

Vina merasa takut. Jika ular itu beracun, maka ia dalam masalah besar. Dan dalam ketidakpastian tentang hal tersebut, Vina sudah pergi ke dunia lain, ke alam mimpi.

Iklan

8 tanggapan untuk “Sebuah Cinta di Pulau Tak Berpenghuni (04)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s