Kesedihan Hujan

banner giveaway cerita hujan

Hujan selalu identik dengan kesedihan. Penulis dan penyair selalu mengaitkan hujan sebagai suasana duka atau perasaan sedih dalam setiap kisah dan puisi. Pada kenyataannya memang benar demikian adanya, berikut adalah kisah saya:

Sebagai anak yang tumbuh di desa, saya tumbuh dan bahagia ditemani hujan. Bagi kami, anak-anak kampung, hujan merupakan waktu yang tepat untuk bermain. Secara ajaib hujan mampu memberi kesenangan dan kebahagian tersendiri bagi kami pada saat kecil.

Kami biasa bermain kejar-kejaran, bermain kapal-kapalan dari kertas di saluran air, berlari secara berkelompok mengelilingi desa, atau mencari buah mangga dari satu kebun ke kebun lainnya di desa kami karena biasanya banyak buah mangga matang yang jatuh ketika hujan. Dan masih banyak lagi lainnya. Intinya, anak-anak desa selalu menanti kedatangan hujan.

Tapi bermain ketika hujan bukan tanpa risiko. Terkadang orang tua kami marah-marah sampai memukul pantat kami. Dan itu berlaku bagi mayoritas anak dan dilakukan orang tua kami di depan anak lainnya. Sebagai anak-anak, kami pasti mengolok-olok anak yang dipukul pantatnya oleh orang tua masing-masing keesokan harinya. Itu kenangan yang lucu.

Belum lagi risiko gatal-gatal. Hampir di semua tempat di desa kami banyak ditumbuhi pepohonan. Tentu banyak ulatnya. Jadi, sudah hal wajar bagi kami jika setelah bermain hujan akan menderita gatal-gatal. Tapi entah mengapa semua anak selalu menanti hujan. Hujan membuat kami bahagia.

Seiring berjalannya waktu, saya pun tumbuh dewasa. Begitu pula anak-anak lainnya. Secara mengejutkan kami mulai tidak menyukai hujan. Hujan bisa membuat demam, karena hujan jemuran tidak kering, hujan membuat terlambat kerja, bahkan hujan menjadi penyebab menurunnya penjualan bagi sebagian pedagang. Begitulah nalar orang dewasa.

Bayangkan bagaimana seandainya hujan memiliki perasaan? Ia yang dulu selalu membawa kebahagian bagi manusia ketika masih kecil, pada akhirnya dibenci ketika mereka sudah dewasa. Ironis. Tapi begitulah nasib hujan. Manusia memang picik dan selalu ingin mengambil bagian enaknya saja. Ketika manusia merasakan sedikit masalah karena hujan, mereka sudah lupa tentang kenangan bahagia bersama hujan.

Itulah mengapa hujan selalu dan sangat cocok mengambarkan kesedihan. Karena nasib hujan memang menyedihkan. Setidaknya begitulah dari kacamata saya. Apakah Anda sudah bijaksana memperlakukan hujan? Atau Anda juga tidak menyukainya? Akan sangat menyenangkan membaca pemikiran Anda di kotak komentar.

Iklan

18 tanggapan untuk “Kesedihan Hujan

  1. Emang iya sih, saya jg org kampung yg wktu kecil bahagianya kalo udh ujan. Tak peduli paha dicubit mamak. Dan mamak marah krn pakaian baru ganti udah dibikin jorok krn lumpur. Jd marah bukan krn anaknya tkut demam, hikks. Tapi org tua jaman dulu ga ada yg hawatir tuh klo anaknya main ujan, dan ajaibnya lg memang jarang anak2 jaman dulu itu sakit krn ujan.

    Sampe sekarang saya sbnrnya masih sangat menyukai hujan, tp kalau lagi di dalam ruangan. Kalau ada temennya main ujan sih mau2 aja sbnrnya hahaha. Menikmati komplotan air turun dr langit itu nikmat skali rasanya. Apalagi kalau jatuhnya ke air juga, misal ke kolam. Menikmati hujan dari jendela kaca sambil menulis, ato sambil baca ditemani teh dan cemilan… ada ketenangan tersendiri.
    Itu Menurut saya…

    Kok jd panjang ya?? Hahah

    Suka

    1. Ternyata ada penikmat hujam ha ha ha….. Soalnya dewasa ini banyak yg berpikir negatif tentamg hujan. Apalagi klo udah kebanjiran dan lain2, biasanya langsung benci hujan. Padahal bencana tsb ulah manusia sendiri.

      Suka

  2. Sukaa.. Iya sih terkadang ada hal yg menyenangkan sekaligus menyebalkan ttg hujan.. Tapi aku mengambil sisi kebahagiaannya, aku suka hujan yg menentramkan, memandanginya dibalik jendela atau menadahkan tangan agar tersentuh butiran hujan.. Hujan banyak membawa kisah seru, ttg persahabatan, ya karena hujan menjebak kita untuk bersama dan tertawa bersama sembari bermain gitar. Hahaha

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s