Musim Panas yang Terlambat, Gagal Panen, dan Perkembangan Bisnis

Musim panas 2016 dan bisnis
Pengusaha Sukses

Sumber gambar : masawep.com

Musim panas tahun 2016 sedikit terlambat. Hingga pertengahan bulan agustus, cuaca masih tidak menunjukkan akan berakhirnya musim hujan. Hujan masih turun dan menyebabkan pasar menjadi sepi. Penjualan menurun. Padahal musim panas merupakan waktu untuk menghasilkan lebih banyak uang  Walaupun demikian, saya masih tetap optimis di musim panas tahun ini.

Memang perkembangan terakhir belum menunjukkan tanda-tanda peningkatan penjualan seperti musim panas – musim panas sebelumnya. Tapi saya berasumsi bahwa keadaan akan kembali normal di awal september.

Selain karena kualitas buah-buahan yang semakin baik saja, jumlah pelanggan kami menjadi semakin banyak. Terlebih setelah kami menjual produk-produk untuk kalangan menengah ke atas sehingga target pasar kami menjadi lebih luas dari sebelumnya. Dan pasar merespon dengan baik. Produk kami habis. Itu merupakan langkah terbaik yang pernah saya catat selama setahun terakhir yang diambil oleh kedua orang tua saya.

Dan semoga kami bisa menyelesaikan musim panas tahun ini dengan baik, menjual lebih banyak buah, mendapatkan pelanggan baru dan menjaga kepuasan pelanggan lama, dan semoga keuntungannya pun lebih baik dari tahun lalu.

Dampak dari Petani yang Gagal Panen

Melon dan Blewah merupakan dua produk yang sangat digemari oleh masyarakat Mojosari di musim panas. Kami bisa menjual 200 Kg Blewah dalam sehari. Boleh dibilang Blewah merupakan produk unggulan kami guna meningkatkan penjualan. Selain itu, karena kami terbiasa membeli jumlah sebanyak itu, biasanya akan mendapatkan potongan dari juragan besar sehingga kami bisa menekan harga serendah mungkin. Dengan kata lain, harga yang lebih murah dari pesaing mampu meningkatkan daya saing kami terhadap pedagang buah lainnya.

Dampak positifnya, ada semacam brand bahwa lapak buah kami memberikan harga yang lebih murah. Walaupun itu sebenarnya tidak benar, namun masyarakat mempercayainya. Produk-produk lain pun menjadi laku walaupun harganya tidak jauh berbeda dengan harga pesaing. Jadi, Blewah memegang peranan penting dalam bisnis kami.

Kemudian buah melon. Walaupun jumlah penjualannya tidak sebanyak blewah, melon juga termasuk produk yang saya sukai. Bukan sekadar laku, tapi beberapa pelanggan lama sering memberikan feedback yang baik. Jika mereka puas, maka mereka pun akan menceritakan tentang lapak buah kami kepada orang lain. Itu sangat baik bagi brand kami.

Di sisi lain, kami biasanya menjual melon “sedikit” lebih mahal sehingga kami bisa mendapatkan untung yang lebih banyak. Meskipun begitu, tidak ada tanda-tanda pelanggan kami protes mengingat kualitas melon sedang baik. Strategi ini terus berlaku setiap tahun.

Kabar buruknya adalah petani melon dan blewah gagal panen tahun ini. Penyebabnya adalah hujan yang tak kunjung berhenti. Hujan membuat melon dan blewah rusak. Dan tahun ini tidak ada produk-produk tersebut di pasaran.

Seingat saya, kami hanya pernah 3 kali memasok blewah di bulan ramadan. Itu pun blewah berkualitas rendah. Awalnya saya kira memang belum panen, tapi kemudian saya mendengar kabar bahwa petani gagal panen. Dan sampai bulan ini, saya tidak menemukan blewah di pasar buah Mojosari.

Melon? Nasibnya sama seperti blewah, gagal panen. Namun beberapa bulan yang lalu masih ada melon di pasaran. Bahkan kami sempat memasoknya beberapa kali dan mendapatkan untung. Tapi sekarang juga tidak ada melon di pasaran.

Dampaknya, tentu saja penjualan kami menurun drastis dibandingkan tahun lalu. Kejadian petani gagal panen blewah dan melon diluar prediksi saya. Saya cukup khawatir. Tapi juga ingin belajar bagaimana orang tua saya menghadapi situasi semacam ini. Dan jawabannya adalah menjual produk-produk baru.

Produk-Produk Baru dan Performanya

Setiap kali saya mengusulkan untuk menjual produk-produk mahal, orang tua saya selalu menolaknya. Katanya semua masih baik-baik saja dan tidak perlu mengambil resiko untuk menjual produk-produk yang mahal.

Secara teori sebenarnya target pasar kami adalah kelas menengah ke bawah. Menurut saya, dengan menjual produk-produk mahal, mungkin kami bisa menyasar lebih banyak pelanggan dari kelas menengah ke atas. Tapi ide tersebut hanya menjadi teori di kepala saya, tidak pernah terealisasikan.

Tapi semua berubah di musim panas tahun ini. Bapak saya tiba-tiba memasok kelengkeng, apel china, dan pear. Mungkin karena ada “modal nganggur” karena ketiadaan melon dan garbis sehingga Bapak saya berinisiatif memasok produk-produk untuk orang kaya.

Bagaimana performanya? Lihat di bawah ini:

Kelengkeng

Ada trend baru di Mojosari. Itu adalah popularitas kelengkeng yang semakin meningkat. Entah mengapa kelengkeng menjadi buruan masyarakat beberapa minggu terakhir. Dan itu sangat bagus untuk bisnis.

Sayangnya kami termasuk pemain baru. Kami hanya mampu menjual sekotak kelengkeng yang berisi sekitar 10 Kg setiap hari. Menurut Bapak saya sih, untungnya sedikit sekali. Tapi hal ini cuma bertujuan untuk menjaga pelanggan agar tetap belanja di lapak buah kami.

Ingat dengan “gangguan kecil” tahun lalu? Sekarang produk utama mereka adalah kelengkeng. Dengan kata lain, persaingan jeruk bali menjadi longgar. Dilihat dari sisi bisnis, kami cukup diuntungkan. Kami berhasil menjual jeruk bali tanpa hambatan berarti tahun ini. Tidak seperti tahun lalu.

Untuk kelengkeng sendiri, kami tidak terlalu berharap. Terlalu banyak yang menjualnya. Namun kami tetap bersyukur dengan penjualan sekitar 10 Kg perhari. Oh ya…. kami membandrol kelengkeng seharga Rp 25.000,00/Kg.

Pear

Namanya bereksperimen tentu akan mengalami kegagalan. Hal ini terjadi dengan produk pear kami.
Walaupun tidak sampai mengalami kerugian, tapi kami tidak melanjutkan penjualan pear.

Beberapa minggu yang lalu, atas ide saya, Ibu membeli sekardus pear. Awalnya semua berjalan dengan baik, dengan harga Rp 25.000,00, ada saja yang tertarik untuk membeli. Namun kami mengalami salah satu hal menyakitkan dalam berdagang, salah memasok barang.

Dilihat dari segi rasa, tidak ada masalah. Rasanya manis. Namun ada beberapa pear yang memiliki bercak-bercak hitam. Tidak busuk. Tapi membuat pelanggan tidak mau membelinya. Agar produk habis, kami menurunkan harganya menjadi Rp 20.000,00. Cukup adil bagi kami.

Kami butuh waktu sekitar 5 hari untuk menjual sekardus pear. Itu pertanda buruk. Dan kami tidak melanjutkan menjual pear lagi. Kecuali jika ada banyak pelanggan yang mengatakan ingin membeli pear, baru kami akan menyediakannya lagi.

Apel China

Ini produk baru yang paling laku. Kami bisa menjual sekardus apel china dalam 2 hari. Per kardus bisa untung antara Rp 125.000,00 – Rp 150.000,00. Jika semua berjalan sesuai rencana, maka kami bisa meraup keuntungan di atas satu juta dalam sebulan dari penjualan apel china.

Ini ide Bapak saya. Padahal awalnya saya sendiri sempat pesimis dengan apel china mengingat target pasar kami adalah kalangan menengah ke bawah. Tapi respon begitu baik dan produk ini selalu habis. Saya sangat senang sekali.

Harga apel china Rp 26.000,00/Kg. Entah karena faktor apa, tapi apel china merupakan produk baru kami yang paling sukses karena kelengkeng dan pear tidak menunjukkan adanya kenaikkan penjualan.

Selain tiga produk baru diatas, kami juga menjual semangka merah dan kuning, sawo, jeruk bali, jeruk jember, dan pepaya. Saya juga yakin akan semakin banyak produk yang akan kami jual di musim panas tahun ini. Walaupun tanpa melon dan blewah, saya rasa semua masih terkontrol dan baik-baik saja.

18 thoughts on “Musim Panas yang Terlambat, Gagal Panen, dan Perkembangan Bisnis

  1. Iya sampai hari ini di kota saya juga masih hujan terus engga berhenti- berhenti… faktor cuaca memang menjadi salah satu hal yang bisa mempengaruhi perekonomian juga ya…
    Blewah dan melon dua dua nya adalah buah favorit saya… kalau melon saya masih lumayan sering liat…. kalau blewah jarang banget… apalagi di bulan- bulan biasa seperti sekarang, kalau pas bulan ramadhan buah belwan banyak banget yang jual…
    Semoga cuaca nya bisa cepat kembali seperti semula ya…

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s