Mengunjungi Perpustakaan Umum Mojosari

perpustakaan umum mojosari

Sumber gambar : tempo.co

Saya terbangun sekitar pukul 07:00 pagi. Tanpa pikir panjang, saya segera menuju kamar mandi. Selesai mandi, saya langsung memakai parfum seperti biasanya. Bukan parfum mahal, harganya hanya Rp 15.000,00 per botol. Tapi entah mengapa saya menyukai wanginya. Tentu saja, secara tidak langsung, dengan ajaib parfum itu mampu meningkatkan rasa percaya diri saya.

Hari ini saya berencana mengunjungi perpustakaan umum Mojosari. Padahal sudah lama sekali saya ingin mengunjungi perpustakaan umum, baru kali ini ada waktu luang. Saya mengendari sepeda bertuliskan “Phoenix”, kalau tidak salah sejenis Federal.

Dulunya sepeda ini teronggok di gudang. Tidak pernah dipakai. Tapi karena sepeda mini merah yang biasa digunakan oleh semua anggota keluarga saya hilang, akhirnya sepeda ini difungsikan kembali. Dibutuhkan perbaikan disana-sini untuk membuatnya bisa bekerja dengan baik. Total biaya perbaikannya sebesar Rp 200.000,00.
Lumayan mahal kan?

Saya bersepeda melewati embong tengah, jalan yang cukup populer di kota kecil seperti Mojosari. Embong tengah merupakan kawasan pertokoan. Kanan dan kiri jalan terdapat bermacam-macam toko.Tapi bukan itu yang membuatnya terkenal, melainkan banyaknya jumlah pedagang kaki lima yang memenuhi jalan tersebut. Anda bisa mendapatkan makanan murah atau jam tangan murahan jika mengunjungi embong tengah.

Kemudian belok kanan, memasuki jalan Erlangga atau Airlangga no. 54. Juga kawasan pertokoan. Hanya saja tidak ada pedagang kaki lima sama sekali. Di pertigaan, seharusnya saya lurus dan masuk ke kawasan pasar legi melalui pintu sebelah utara. Namun karena perpustakaan tidak memiliki tempat parkir yang nyaman, juga karena sepeda saya tidak ada kuncinya, terpaksa saya berbelok kiri, menuju pasar legi sebelah barat. Tepat sekali. Saya menuju lapak buah milik keluarga saya.

Disana ada Bapak. Saya memarkir sepeda dan duduk-duduk sebentar menemani Bapak yang sedang berjualan. Lalu memesan secangkir kopi dan bersantai ditemani sebatang rokok. Beberapa menit kemudian, saya berpamitan kepada Bapak, Menuju perpustakaan umum dengan berjalan kaki melewati tengah pasar yang tampak masih sepi di pagi itu.

Sekitar 14 Tahun yang Lalu

Ketika saya masih duduk di SMP, perpustakaan ini sering saya kunjungi. Bukan karena ingin membaca buku, tapi saya tertarik dengan tabloid BOLA. Pada masa itu saya begitu tergila-gila dengan klub sepak bola di liga Inggris, Chelsea. Saya berlangganan majalah SOCCER, tapi masih kurang puas. Jadi, tabloid BOLA di perpustakaan merupakan sumber informasi terbaik tentang sepak bola selain majalah yang saya miliki, SOCCER.

Meskipun begitu, di masa itu, memiliki akses terhadap tabloid bola adalah hal yang sulit. Bukan hanya saya saja yang tertarik dengan tabloid tersebut, tapi beberapa pengunjung juga memiliki minat yang tinggi terhadap tabloid tersebut. Akibatnya, untuk membaca tabloid terbitan terbaru harus antri. Siapa yang cepat, maka dia yang dapat.

Sebagai anak ingusan yang masih kecil, saya jarang membaca BOLA edisi baru. Selalu saja ada orang yang lebih cepat. Dan itu terus terjadi. Saya baru bisa membaca BOLA edisi terbaru setelah beberapa hari dari tanggal terbit. Kalau pun saya antri di hari yang sama dengan hari terbitnya tabloid tersebut, bisa dipastikan saya tidak kebagian mengingat peminatnya cukup banyak. Terlebih lagi kebanyakan peminat tabloid ini adalah orang-orang dewasa. Tentu saja tidak ada kesempatan bagi anak yang masih beranjak dewasa seperti saya untuk bersaing memperebutkan tabloid tersebut.

Di usia 14 tahun, saya mulai tertarik membaca buku di perpustakaan ini. Buku pertama yang begitu berkesan bagi saya adalah 7 Habbit. Walaupun saat ini saya hampir melupakan seluruh isinya, tapi dalam ingatan saya, buku itu merupakan buku spesial. Karena banyak hal yang benar-benar saya lakukan sesuai dengan buku tersebut. Bahkan buku itu adalah motivasi terbesar saya untuk menuliskan buku semacam itu di kemudian hari. Sayangnya, itu adalah mimpi masa kecil yang tidak pernah terwujud.

Selain itu, saya juga berkenalan dengan Aristoteles di perpustakaan ini. Juga tokoh-tokoh dari yunani lainnya. Anehnya, sama seperti impian menulis buku sebagus 7 Habbits, saya juga pernah bermimpi menjadi orang bijaksana seperti Aristoles. Impian masa kecil yang juga tidak terwujud. Itulah saya di usia 14 tahun, penuh dengan impian. Selanjutnya saya terus mengunjungi perpustakaan umum Mojosari sampai saya lulus SMA.

Perpustakaan Di Dalam Pasar

Yang paling menonjol dari perpustakaan umum Mojosari adalah letaknya. Saya juga penasaran dan bertanya tanpa menemukan jawabannya : “Mengapa perpustakaan umum Mojosari di bangun di tengah-tengah pasar?

Bukan saja aneh, tapi juga sulit ditemukan. Letaknya di pojok-an. Jika Anda masuk ke pasar legi melalui jalan sebelah utara, Anda bisa bertanya kepada pedagang yang ada disana. Tanpa bertanya, kalau Anda tidak cermat, mustahil menemukan perpustakaan ini.

Di dalam perpustakaan, jangan harap semuanya tenang tanpa suara. Anda tetap bisa mendengar suara orang yang tawar menawar harga, musik dari toko kaset di sebelah perpustakaan, atau suara ribut lainnya. Jika Anda bukan orang yang sudah berpengalaman membaca, maka bisa dipastikan Anda tidak akan nyaman di perpustakaan ini. Solusi terbaik bagi Anda yang baru membangun kebiasaan membaca buku dan belum memiliki fokus tinggi adalah mendaftar menjadi anggota dan membawa buku yang Anda sukai.

Di perpustakaan ini semua tertata rapi. Ada beberapa meja baca dan kursi. Standart. Dan semuanya terbuat dari kayu. Ada juga beberapa kursi yang terbuat dari plastik seperti kursi-kursi yang biasa digunakan dalam acara hajatan. Belum lagi tidak ada AC, udara terasa panas. Jika Anda adalah orang kaya, maka tempat ini pasti tidak cocok untuk Anda. Jangan dikunjungi atau Anda akan tersiksa.

Kekecewaan

Usia saya 18 tahun ketika lulus SMA. Itu berarti sudah 9 tahun lebih saya tidak berkunjung ke perpustakaan ini. Seingat saya, ketika saya menjadi mahasiswa, saya hanya pernah mampir sekali untuk meminjam buku tentang pemrograman VB. Selanjutnya, saya tidak lagi mengunjungi perpustakan umum Mojosari.

Tentu saja harapan saya sangat tinggi terhadap perpustakaan yang sudah ada sejak saya masih kecil ini. Pasti banyak buku-buku baru. Sangat kebetulan juga kondisi keuangan saya sedang tidak baik, Tidak punya cukup uang lebih untuk membeli buku baru. Jadi, mungkin saja saya menemukan buku-buku bagus di perpustakaan ini.

Dari lapak buah keluarga saya, saya terus berjalan melewati tengah pasar. Tidak lebih dari 5 menit, saya pun sampai di tujuan. Setelah mengisi daftar tamu, saya menuju ke tempat petugas perpustakaan. Saya menyatakan diri ingin mendaftar di perpustakaan ini. Sayangnya, saya hanya membawa 2 foto 3 x 4, sedangkan persyaratan mengharuskan membawa 3 foto 3 x 4. Saya pun tidak bisa mendaftar di hari ini. Tapi besok, saya ingin kembali ke perpustakaan ini dengan membawa foto-foto sesuai persyaratan, bergabung menjadi anggota.

Karena sudah terlanjur datang, saya pun menjelajahi perpustakaan umum Mojosari, berharap menemukan buku yang bagus sehingga bisa saya pinjam keesokan harinya setelah saya mendaftar. Betapa terkejutnya saya, ternyata tidak banyak perubahan di perpustakaan ini. Tidak ada buku-buku baru. Hanya ada buku-buku bekas yang warnanya sudah jelek. Yang paling baru, buku terbitan tahun 2013.

Saya sungguh kecewa. Bagaimana pun juga, saya bukan anak kecil seperti 14 tahun yang lalu. Saya sudah berbeda. Saya sudah membaca bermacam-macam buku dengan kualitas terbaik dan saya memiliki minat baca yang tinggi terhadap buku-buku baru, bukan buku lama. Walaupun kecewa, tetap saja saya menjelajahi perpustakaan ini. Untungnya saya menemukan beberapa buku yang menarik, buku tentang Bahasa Indonesia dan Psikologi remaja. Setidaknya saya punya bacaan. Sampai keuangan saya membaik dan bisa membeli buku-buku baru, saya rasa saya akan betah  membaca buku-buku lama di perpustakaan ini sebagai referensi menulis untuk blog ini.
     

Iklan

17 tanggapan untuk “Mengunjungi Perpustakaan Umum Mojosari

  1. Itu 7 Habitnya Steven Covey yaaa? Dari beberapa taun lalu mau baca itu tapi ga nemu-nemu bukunya (nemu pinjeman maksudnya). Udah beberapa perpus ga ada stok huhu 😦 mau beli tapi mahal banget

    Suka

  2. perpustakaan umum biasanya sih emang gitu mas,. tapi yang penting koleksi bukunya banyak, buku lama juga kalo belum baca serasa baru kan? hehe.. maksa

    saya dulu kalo di perpus suka liat2 majalah trubus,. seneng aja lihat tanaman2 bagus, ikan2 hias gitu.. adem diliat.. padahal udah SMA.. haha

    Suka

    1. Di perpustakaan mojosari juga banyak majalah trubus, bahkan diarsipkan. Saya juga agak kurang minat mbaca trubus karena nggak punya tanaman maupun ikan juga ha ha ha…….

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s