Kehidupan Penderita Skizofrenia

Saya penderita skizofrenia. Anda tidak salah jika menganggap saya sebagai orang dengan gangguan jiwa. Anda juga boleh menyebut saya sebagai orang gila. Karena pada kenyataannya memang seperti itu adanya. Awalnya saya sulit menerima sebutan “orang gila” karena itu istilah yang cukup menyakitkan. Tapi saya juga tidak bisa menyalahkan orang lain yang menyebut saya “orang gila” karena pemahaman mereka yang salah sudah umum dipakai oleh masyarakat di indonesia. Kalau boleh membela diri, saya lebih suka disebut sebagai penderita skizofrenia saja dibanding dengan orang gila.

Alasannya?

Karena secara medis penderita skizofrenia mengalami gangguan pada pikirannya sehingga tidak bisa berprilaku normal seperti orang kebanyakan. Sama seperti penyakit autis, pikun, dan penyakit-penyakit lainnya. Itu alasan yang cukup untuk memperlakukan saya seperti orang kebanyakan. Dan saya sangat menghargai orang yang bisa memperlakukan penderita skizofrenia dengan baik.

Saya pernah ditanyai teman blogger yang ingin tahu tentang penyakit skizofrenia lebih jauh. Saya tidak bisa menjelaskan lebih jauh waktu itu. Tapi saya akan coba untuk menjelaskan dengan bahasa normal tanpa istilah kedokteran sehingga Anda bisa memahaminya di postingan kali ini. Saya juga akan menceritakan sedikit kehidupan saya agar Anda tidak penasaran bagaimana penderita skizofrenia menjalani kehidupannya.

Suara-Suara Di Pikiran Penderita Skizofrenia

Hal yang membedakan antara penderita skizofrenia dengan orang normal adalah suara-suara yang silih berganti di pikirannya. Para dokter menyebutnya sebagai halusinasi dengar, yakni penderita mampu mendengarkan suara-suara “aneh” di pikirannya. Sedangkan saya menyebut suara-suara di pikiran saya sebagai “teman khayalan”.

Suara di pikiran saya  terdiri dari dua jenis, lelaki dan perempuan. Suara tersebut datang dan pergi sesuka hati. Tidak dapat dikendalikan dan memiliki karakter tertentu.

Ada suara yang baik hati. Suara ini enak diajak ngobrol. Saya sangat nyaman dengan suara jenis ini. Saya bisa menghabiskan berjam-jam mengobrol dengan teman khayalan jika ia termasuk suara yang baik hati. Suara tersebut tidak mengatakan hal-hal buruk dan mengatakan hal-hal yang umum di dengarkan seperti membicarakan tentang hubungan pertemanan, keluarga, dan kehidupan. Saya menikmati halusinasi seperti ini.

Ada juga suara yang sering mengancam. Teman khayalan seperti ini selalu mengeluarkan kata-kata ancaman dan membuat saya selalu khawatir. Kadang-kadang apa yang dikatakannya benar-benar jadi kenyataan. Itu yang membuat saya sedikit takut dengan suara jenis ini. Awalnya saya juga tidak tahu bagaimana menghadapinya, tapi lama-kelamaan saya mengetahui triknya. Suara jenis ini mengatakan ancaman yang hampir pasti dialmi oleh manusia. Misalnya “kamu akan sakit”, “kamu tidak akan memiliki uang”,”orang tuamu membencimu”, dan sebagiannya. Sekali saja uacapannya benar, suara ini akan dengan sombong mengatakan bahwa semua yang dikatakan akan terjadi. Padahal lebih banyak hal yang diucapkannya tidak pernah terjadi. Meskipun begitu, tetap saja membuat saya sedikit takut. 

Ada juga suara yang suka mengejek. Ini yang paling menganggu. Setiap kali saya beraktivitas dan gagal melakukannya, ia akan mengejek saya terus-menerus. Saya sampai kesal dengan suara jenis ini. “Buat apa belajar, tidak ada gunanya?”, “Kamu tidak akan bisa sembuh”, “Dasar manusia tidak berguna”, dan berbagai kata kotor yang tidak patut untuk dituliskan.

Masih banyak jenis-jenis suara lainnya, tapi pasti terlalu panjang untuk diceritakan satu persatu. Itu mengapa orang normal menganggap bahwa penderita skizofrenia adalah orang gila karena sering terlihat berbicara sendiri. Padahal sesungguhnya penderita skizofrenia tersebut sedang berinteraksi dengan suara-suara di pikirannya.

Suara-suara ini juga membuat perasaan penderita skizofrenia (saya) menjadi tidak stabil. Kadang marah dengan apa yang dikatakan suara tersebut. Kadang tiba-tiba merasa lucu dan tersenyum sendiri. kadang juga membuat takut saya sehingga saya hanya bisa tiduran saja. Emosi saya hanya dipengaruhi oleh suara-suara tersebut sepenuhnya.

Itu adalah sedikit dunia penderita skizofrenia yang tidak mungkin bisa dipahami oleh orang normal. Karena suara-suara yang terus berkata-kata pula penderita skizofrenia tidak bisa fokus melakukan banyak hal. Bisa dikatakan bahwa sebagian besar penderita skizofrenia tidak bisa menggunakan pikirannya dengan baik karena suara-saura yang tidak jelas tersebut. Itu mengapa penderita skizofrenia itu tidak bisa mandiri alias membutuhkan orang lain.

Penderita Skizofrenia Tidak Bisa Mandiri

Kenyataan yang paling menyakitkan bagi saya adalah fakta bahwa saya tidak bisa mandiri. Pikiran saya tidak bisa digunakan berpikir sebagaimana mestinya. Itu semua karena pikiran saya selalu fokus pada apa yang dikatakan oleh teman khayalan saya. Itu terjadi sepanjang waktu sehingga saya membutuhkan orang lain untuk mengingatkan waktu mandi, waktu makan, waktu minum obat, dan sebagiannya. Jadi, penderita skizofrenia butuh orang lain yang biasa disebut caregiver (orang yang merawat penderita skizofrenia) untuk memastikan semua baik-baik saja.

Tapi merawat penderita skizofrenia tidak semudah yang Anda bayangkan. Saya kadang-kadang juga sering rewel dan menganggap kalau tidak mandi juga tidak apa-apa. Orang tua saya biasanya akan marah-marah. Begitu pula dalam banyak hal. Saya sering tersinggung jika diperintah ini dan itu oleh orang tua. Biasanya akan berakhir dengan pertengkaran-pertengkaran. Tapi setelah 5 tahun berjalan, sepertinya saya dan orang tua sudah saling memahami sehingga sudah jarang terjadi pertengkaran-pertengkaran yang tidak perlu.

Selain itu kebanyakan pengidap skizofrenia tidak mampu bekerja layaknya manusia normal. Kebutuhan mereka sepenuhnya menjadi tanggungan caregiver. Jadi, caregiver tidak hanya diuji kesabarannya menghadapi penderita skizofrenia, tapi juga keuangannya.

Belum lagi masalah obat yang mahal. Padahal penderita skizofrenia butuh mengkonsumsi obat-obatan untuk meredakan suara-suara yang ada di pikiran. Tanpa mengkonsumsi obat, penderita skizofrenia tidak akan tenang. Suara di pikiran akan menjadi lebih keras dari biasanya dan itu menyebabkan penderita skizofrenia melakukan hal-hal buruk seperti memecahkan barang-barang, marah-marah, memukul, dan sebagiannya (saya tidak pernah melakukan hal semacam itu).

Pekerjaan

Seperti yang saya katakan diatas, kebanyakan penderita skizofrenia menjadi pengangguran karena memang tidak bisa melakukan pekerjaan dengan benar. Juga karena stigma masyarakat yang takut dengan pengidap skizofrenia yang membuat penderita skizofrenia tidak bisa memperoleh pekerjaan dengan layak.

Dari cerita teman saya yang juga penderita skizofrenia, ia bisa bekerja sebagai pencuci piring di warung pamannya. Ada juga yang ikut mengelola jasa loundry milik saudaranya. Ada juga teman yang jadi penjual cd di pasar. Dan banyak pekerjaan remeh temeh lainnya. Itu pekerjaan kami, penderita skizofrenia. Padahal di belanda pemerintahanya membuat pabrik khusus penderita skizofrenia agar penderita skizofrenia mampu mandiri dan hidup dengan layak. Itu juga harapan saya agar di indonesia juga bisa seperti itu di masa depan.

Saya juga termasuk yang penderita skizofrenia yang beruntung karena bukan pengangguran. Keluarga saya memiliki lapak buah di pasar. Saya bekerja menjaga lapak tersebut dan melayani pembeli yang datang. Saat ini saya terbiasa berjualan sendiri selama 4 sampai 5 jam. Di masa yang akan datang, meskipun berat, saya ingin menjaga lapak buah 8 sampai 10 jam setiap hari.

Lagipula ibu dan bapak juga sudah tua. Kata mereka lapak tersebut akan diserahkan kepada saya. Mereka akan pensiun dari pekerjaan tersebut dan mengatakan kepada saya untuk berjuang agar sembuh dari penyakit skizofrenia. Tapi sejujurnya saja, saya pesimis. Saya tidak mungkin bisa mengelola lapak tersebut sendirian. Apalagi saya juga belum bisa membeli stok di pedagang-pedagang besar. Tapi saya akan belajar untuk mengelola lapak buah ini. Setidaknya saya memiliki pemasukan untuk memenuhi kebutuhan saya sehari-hari.

 

Pergaulan Sosial

Sejak saya menderita skizofrenia, saya tidak lagi mempunyai teman. Berita cepat menyebar, orang-orang di daerah saya mungkin menganggap saya orang gila dan berusaha menghindari saya. Saya sudah terbiasa seperti itu.

Lalu bagaimana ? apakah saya menderita?

Untuk memenuhi kebutuhan saya sebagai manusia sosial, saya tergabung dalam banyak grup di internet. Saya sudah merasa cukup ngobrol dengan teman-teman di grup-grup facebook. Apalagi dari grup komunitas peduli skizofrenia indonesia, disana saya juga bisa curhat seputar masalah yang saya hadapi karena suara-suara di pikiran saya. Disana adalah tempat terbaik untuk ngobrol sejauh ini.

Oh ya….. hampir lupa, saya juga memiliki beberapa orang teman ngobrol di pasar. Sesama pedagang. Tapi ya itu…… sejauh ini kami tidak memiliki hubungan yang dekat. Cuman sebatas ngobrol ngalor-ngidul untuk menghabiskan waktu. Tidak pernah ngobrol tentang kehidupan pribadi masing-masing.

Untung saya anggota keluarga saya bisa jadi teman ngobrol yang baik. saya merasa lebih baik sekarang. Saya Cuma ingin ngobrol dengan anggota keluarga lebih sering lagi. Membicarakan banyak hal yang menyenangkan.

Di waktu luang saya juga menghabiskan waktu untuk menulis di blog ini. Rasanya menyenangkan saja bisa saling berkomentar di blog dan membangun ikatan dengan blogger lainnya. Paling tidak saya tidak mengisi hari-hari saya dengan kegiatan-kegiatan negatif.

Lalu kira-kira apalagi yang ingin teman-teman ketahui tentang kehidupan skizofrenia? Mungkin bisa saya ceritakan di postingan selanjutnya di masa depan.
 
Ditulis dengan wordpress untuk android

Iklan

76 tanggapan untuk “Kehidupan Penderita Skizofrenia

      1. mas saya juga pengidap penyakit skizo frenia,tpi bedanya saya tidak mendengar suara2,tetapi saya mengikuti imajinasi,dlm skizofrenia gw,di dlm skizofrenia gw berhasil menemukan penemuan baru,dan gw merasa bisa mencuci otak,gw merasa bisa mengubah tatanan dunia,dan gw selalu merasa orang paling pinter sedunia ketika penyakit gw kambuh,gw pernah masuk rehab,gw mampu membuat teori tentang awal terciptanya ilmu,
        spritual—->sains——->sosial,gw mampu,gw mendisiprikan hidup gw seperti game rpg,gw mampu mengobati gigi berlubang gw tanpa ke dokter hanya dengan mengunakan garam dan lemon,gw berfikir garam mempunyai kalsium yg tinggi utk menutupi gigi berlubang gw,dan lemon high vitamin c,ketika saya tidak tidur skizo gw makin parah,gw punya penyakiy disleksia,yaitu penyakit yg tidak baik menyusun kata2,obat yg sa.raya minum clorilex,

        Suka

        1. Biarpun saya dah 7 tahun kena skizo, tapi pengetahuan saya tentang skizofrenia masih sangat minim. Terima kasih sudah berbagi. Klo bisa silakan gabung di komunitas peduli skizofrenia indonesiadi facebook. Di sana banyak saling berbagi dan saling mendukung sesama penderita skizofrenia. 😀

          Suka

  1. Wah baru tau ttg skizofrenia ini. Tetap semangat ya Shiq!

    Mau tanya donk, ada terapi atau sejenisnya? Gimana utk sembuh total?

    Amin…semoga pemerintah memperhatikan lapangan pekerjaan yg lebih luas lg bukan utk yg skizofrenia aja tp utk disable, autis dsb.

    Kamu pasti bisa! Jia yo!

    Disukai oleh 2 orang

    1. Ada sih orang yang bisa sembuh, tapi jumlahnya sedikit. Katanya sih seumur hidup harus hidup dengan suara2 aneh di pikiran dan terus mengkonsumsi obat dari dokter.

      Belum pernah dengar ada terapi yang bisa menyembuhkan, tapi klo meredakan ada dengan mendengarkan musik apa gitu ha ha ha……

      Disukai oleh 1 orang

  2. Lekas sembuh ya mas, sering2 nongkrong di mushola dan pos ronda. Tetangga saya dulu juga ada yang kena gejala yang sama, tapi karena sering berinteraksi dengan Tuhan dan warga akhirnya bisa sembuh dan hidup normal, berumah tangga dll..

    Disukai oleh 2 orang

    1. Wa kak kak kak beneran mas parmantos? Klo sama Tuhan sih hampir setiap hari mengeluh dan berdo’a tapi klo warga sekitar itu sulit…. Pada sibuk kerja dan jarang keluar. Pos ronda udah nggak ada mas….

      Suka

    1. Ada juga mbak zahradiaan anak kecil yang terkena skizofrenia, saya udah pernah liat. Tapi dalam banyak kasus perlu diperiksakan ke psikiater biar jelas penyakitnya. Soalnya banyak penyakit mental yang sama seperti skizofrenia.

      Disukai oleh 1 orang

  3. Nggak ngerti mau komen apa. Tapi salut bahwa Tuhan sudah jadikam kamu satu dari begitu banyak survivor di muka bumi ini. Ada yang survive dari kanker, stroke, narkoba dll.
    Kalau kamu nggak cerita nggak akan ada yang tahu kalau kamu penderita schizophrenia. Soalnya tulisan kamu terutama soal blog dan SEO manteb semua.
    Semangat Gan…! Dan jangan berhenti nulis. Nulis itu katanya salah satu terapi untuk kejiwaan….

    Disukai oleh 2 orang

    1. Waha ha ha….. Skizofrenia yang parah bisa membuat orang benar2 hidup di dunia pikirannya. Tapi penuh penderitaan. Sebagai gantinya ia akan memiliki kemampuan di atas rata2 dalam berpikir. John nash contohnya penderita skizofrenia sejak kecil yang bisa meraih nobel ekonomi. Keren kan?

      Disukai oleh 1 orang

  4. mungkin Mas Shiq4 bisa mulai mengajak temen2 penderita skizofrenia lain untuk membuat pabrik khusus skizofrenia. kegiatan positif untuk orang lain kadang bisa jadi terapi daripada terus berkutat dengan diri sendiri 🙂

    semangat Mas Shiq4 (^^)/
    semoga sukses usaha lapak buahnya. siapa tahu bisa jadi ahli marketing kayak Kotler 😀

    makasih sharing ilmunya..

    Disukai oleh 1 orang

    1. Impian saya mbak isnaini, saya pingin menuliskan semua pengalaman dan teori berdagang yang saya miliki. Nggak perlu terkenal, pokoknya ada yang baca tulisan saya, itu aja udah membuat saya senang.

      Disukai oleh 2 orang

  5. Wah, salut dengan keberanian menceritakan soal ini. Tetap semangat yaaa…tak ada yang mustahil buat Tuhan, kalo Tuhan berkenan untuk sembuh, maka tentu bisa sembuh total.

    Sukses juga dengan lapak buahnya yaa..siapa tau justru setelah ‘dilepas’ oleh orangtua malah jadi lebih berkembang lapaknya 🙂

    Disukai oleh 2 orang

  6. Wah tulisannya bagus sekali. Benar-benar mengalir. Nambah wawasan ttg skizofrenia. Tapi memang betul ada stigma masyarakat terhadap penyakit ini, makanya saya salut kamu bisa jujur nulis di blog. Hebat!! Semangat terus untuk berbagi cerita-cerita km 👍.

    Disukai oleh 1 orang

  7. Gile gan, ane gak nyangka ente penderita skizofrenia..ane sendiri baru ngeh stelah baca tulisan ini, biasanya kan seputar SEO, gile bener.. Ini kayaknya udah ada filmnya, beautifull mind, berdasarkan kisah nyata. Film itu hampir mirip ama tulisan ente gan, gak nyangka aj nemuin kisah yg sama, gile dah.. Mnurut ane kemampuan menulis ente diatas rata2, kembangin terus gan..’saudara2′ qta yg penderita skizofrenia perlu jg didengarkan suaranya. Gileee benerr

    Disukai oleh 2 orang

    1. Iya gan ane juga tahu film beatifull mind. Inspirasi saya. Kan pada akhirnya john nash dapat nobel juga diakhir hidupnya setelah menjalani perawatan skizofrenia. Bahkan sempet cerai tapi balikan lagi sama istrinya. Hidupnya sulit gan. Itu yang parah. Klo saya nggak sampai halusinasi penglihatan, cuman halusinasi dengar aja.

      Disukai oleh 1 orang

  8. Oh God…semangat kak Shiq4….niat dan usaha pasti berbuah kok…

    màaf biasanya manggil mbak… #plak

    Eh kak. Gak tau sih syarat dan ketentuannya apa dan entah itu programnya daerah aku aja atau kek gimana. Tapi ada di kampungku, warga rt sebelah, yang berobat rutin juga, tapi gratis. Nah pas ku tanya dari mamahnya tentang pengobatannya, dia bilang pemerintah menggratiskan pengobatan skizofrenia sama tbc. Kalo kakak mau, cari tau kak. Kali aja di tempat kakak juga ada.

    Tuhan memberkati…

    Suka

  9. andaikan suamiku jg bisa seoptimis anda tentu dia bisa jg hidup normal..tapi aku selalu minta sama Allah agar suatu saat suamiku bisa kembali seperti dulu lagi

    Suka

  10. Gara-gara baca postingan kakak yang mana gitu eh lari kemari. Pertama kali tahu istilah skizofrenia dari nonton film A Beautiful Mind, tentang John Nash. Pasti kakak udah nonton. Terus sering denger cerita teman-teman juga tentang teman-teman mereka lainnya yang kena skizofrenia. Meski kadang tersiksa dengan suara-suara yang sebenarnya tidak ada, saya kok ngebayanginnya justru imajinasi penderita skizofrenia justru luar biasa ya. Coba deh kakak nulis fiksi, pasti keren. Selain halusinasi pendengaran, apakah bisa juga halusinasi penglihatan? Dan emang bener seperti di A Beautiful Mind semisal tokoh halusinasi A bisa muncul berulang kali dan tidak menua?

    Suka

    1. Betul. saya juga halusinasi penglihatan. Biasanya melihat bayangan, terutama kalo malam seperti makhluk2 yang mengerikan.Jangankan bayangkan, benda apapun kadang terlihat menyeramkan. bahkan ke kamar mandi saja sudah nggak berani kalo malam-malam.

      kalau halusinasi pendengaran bikin pusing sendiri. kadang dengar suara manggil eh ternyata nggak ada orangnya. berasa aneh. bahkan suara-suara kecil saja bisa seperti suara manusia. padahal kalo fokus, suara itu masih normal kok.

      iya udah liat beatifull mind saya. itu skizofrenia yang sudah parah karena sudah menyakiti diri sendiri. Meskipun pada akhirnya meraih nobel.

      Suka

  11. Inspiratif sekali mas. Kalau boleh tnya, grup skizofrenia dimana ya mas? Dan bagaimana bisa mas bisa nulis pengalaman skizofrenia ini dengan baik dan runtut gini ya mas? Apa mas sudah sembuh dari semua gejala skizo atau gimana? Tris mas, tetap semangat, tetap menginspirasi

    Suka

    1. Grup skizofrenia di facebook. Namanya komunitas skizofrenia indonesia. Saya masih menderita skizofrenia dan masih rutin minum obat. Klo cuma nulis saja, saya rasa penderita skizo lainnya pun mampu melakukannya 😀

      Suka

  12. brati ini hanya karena delusi halusinasi ya ? bukan karena masalah masa lalu ?, tetapi sekarang masih ada halusinasi terus menerus kah kak ? kalau boleh tau sejak kapan anda mengalami seperti ini ? hehe terimakasih jika berkenan untuk menjawab 😉

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s