Malam Takbiran Kemarin

Semua orang terlihat suka cita menyambut hari kemenangan. Masjid-masjid ramai dengan orang mengumandangkan takbir. Bahkan radio-radio di warung pinggir jalan pun mengeluarkan suara yang sama, suara takbir. Aku tidak perlu memastikannya, TV pun kebanyakan juga menyiarkan sesuatu yang sama.

Pemandangan yang setiap tahun terjadi. Orang-orang begitu gembira menyambut idul fitri setelah selama sebulan penuh harus menahan diri dengan berpuasa. Aku tidak demikian.

Hari dimana banyak orang yang takbiran tidak lebih seperti hari biasa bagiku. Aku masih harus menjaga lapak buah-buahan yang berada tepat di pintu masuk pasar legi mojosari sebelah barat. Aku tidak berhak merayakan apapun mengingat aku tidak berpuasa karena sakit. Mereka, orang-orang yang takbiran, sedikit membuatku iri.

Ingin rasanya bergabung dengan mereka untuk takbiran menyambut hari idul fitri. Tapi kenyataannya, aku masih disibukkan oleh rutinitas harianku, menjaga lapak.

Bagiku, malam takbiran hanyalah hari dimana orang lebih mudah untuk membelanjakan uangnya. Entahlah, yang jelas penjualan buah meningkat di malam takbiran.

Di tengah keramaian orang-orang itu, aku masih merasakan kesendirian. Termenung, berusaha mengingat banyak kejadian yang menimpaku beberapa tahun terakhir.

Kalau saja bukan karena sakit sial ini, tentu saja aku sudah menjadi sarjana. Kemudian mungkin aku juga akan mendapatkan pekerjaan yang baik. Ya… Kalau saja tidak sakit.

Buat apa berandai-andai. Sesuatu yang sudah terjadi tidak akan bisa kembali. Mungkin sudah nasibku untuk ditakdirkan tidak lulus kuliah. Yang terpenting dari semua kejadian, aku sekarang sudah hampir sembuh dari sakitku. Saatnya melupakan masa lalu dan melanjutkan hidup.

Untuk tahun ini, aku tidak menargetkan apapun. Tidak ada tujuan lain dalam hidupku kecuali meminum obat secara teratur agar lekas sembuh. Menjadi pedagang buah tidaklah terlalu buruk. Aku masih bisa menghasilkan uang untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidupku.

Kalau pun ada keinginan, itu adalah membeli kaca mata baru. Kaca mata lamaku hilang saat aku menjalani perawatan beberapa bulan lalu. Rasanya akan tepat kalau aku membeli kacamata sebelum natal tiba. Lagipula aku masih bisa dengan jelas melihat tanpa kacamata. Hanya minus dua saja.

Selebihnya aku tidak memiliki keinginan lain. Jadi, aku sudah memutuskan, hadiah tahun baru nanti adalah kacamata baru. Aku akan meminta ibu untuk membelikannya di akhir tahun nanti. Sementara hasilku bekerja selama ini, biarlah masuk di tabunganku. Hitung-hitung mengumpulkan modal untuk mewujudkan impianku. Memiliki toko buku.

Selesai. Tahun ini adalah tahun penyembuhan. Aku harus pandai mengatur waktu dulu. Rencana lain menyusul kemudian.

Iklan

9 tanggapan untuk “Malam Takbiran Kemarin

  1. Semoga cepat sembuh ya. Sekedar imfo, sakit bukan sial tp Allah sayang sama kamu, Allah tidak akan menguji hambanya du luar batas kemampuan. Saya sih percaya itu ya. Semoga apa yg kamu cita2kan diijabah Allah ya. Jangan putus berdoa πŸ™‚

    Suka

  2. Tidak ada kondisi apapun tanpa hikmah dan berkah dari Allah. Tergantung kita menyikapinya. Kalau dianggap nikmat ya maka akan dilipat gandakan, tapi kalau dianggap sial ya kita sendiri yang repot. Syukuri apapun yang ada dan semoga cepat sembuh..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s