Secangkir Kopi Pahit

Secangkir kopi pahit, menu minuman yang akhir-akhir ini selalu kuminum ketika matahari sepenuhnya tenggelam. Hampir setiap petang aku menikmati secangkir kopi pahit, menggantikan nescafe. Dipadukan dua batang rokok. Sungguh nikmat.

Kopi pahit mengingatkanku pada ucapan seorang dosen ketika aku masih duduk di bangku kuliah. Kata dosenku ” Jadi orang itu harus seperti kopi, membuat warna hitam ketika dicampur air”.

Artinya, kalau bisa, jadilah orang yang bisa memberi manfaat bagi orang lain dimana pun Anda berada. Membuat warna orang lain menjadi sama seperti kita. Memberi manfaat yang sebesar-besarnya.

Tapi sampai sekarang pun aku masih sedikit bingung tentang bagaimana agar kita bisa bermanfaat bagi orang lain tanpa merasa sakit. Kebanyakan, ketika kita berkorban untuk orang lain, kita hanya mendapat rasa sakit. Bahkan, sekedar ucapan terima kasih saja sulit di dapat.

Kalau saja waktu kuliah dulu aku tidak banyak bengong dan memperhatikan semua penjelasan bu dosen, pasti aku tidak kebingungan seperti ini.

Bagiku, secangkir kopi pahit lebih berarti pada takdir hidup. Kita tidak bisa memilih mau jadi anak siapa ketika lahir. Hidup bukanlah suatu pilihan. Terkadang, Anda harus meminum kopi pahit untuk mengerti perbedaannya dengan kopi manis. Apalah arti hidup ini jika Anda tidak pernah merasakan pahitnya hidup.

Dibalik Kopi Pahit

Ketertarikanku dengan rasa kopi sudah begitu lama. Semenjak aku masih duduk di bangku SMA, sudah ratusan kopi yang kuminum. Tapi, kopi pahit, baru akhir-akhir ini saja.

Aku tidak suka kopi pahit. Tapi ada perasaan dimana aku merindukan rasa kopi pahit sejak aku mencobanya beberapa hari yang lalu.

Jika dipikir secara matang dan berlogika, tidak ada salahnya mencoba hal-hal baru dalam hidup ini. Termasuk mencoba untuk menikmati rasa pahit. Rasanya tidak terlalu buruk.

Hari ini, aku sekali lagi mencoba berpikir bijaksana. Mungkin pahitnya hidup yang datang kepada kita adalah sedikit “sentuhan” Tuhan yang mengingatkan kita untuk lebih bersyukur dalam menjalani hidup.

Tanpa rasa sakit, Anda hanyalah manusia yang miskin simpati dan empati. Cenderung merasa tidak nyaman ketika melihat orang lain melakukan kesalahan dalam hidupnya. Menjadi picik dan egois. Tapi ingatlah, diatas langit masih ada langit. Tidak ada manusia yang sempurna.

Sedikit rasa pahit akan membuat hidup Anda lebih berarti. Semoga kita bisa mengambil kebijaksanaan dalam setiap perjalanan hidup kita. Tak peduli apakah rasanya pahit atau manis.

Iklan

7 tanggapan untuk “Secangkir Kopi Pahit

  1. analogi yang bagus :))
    anyway, “Hidup bukanlah suatu pilihan. Terkadang, Anda harus meminum kopi pahit untuk mengerti perbedaannya dengan kopi manis.”

    anda harus meminum kopi pahit. mau meminum dan tidak meminum itu sudah sebuah pilihan lo.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s