Sisi Lain Dunia Maya, Prostisusi Online

Kemajuan teknologi telah membawa kita ke dunia baru yaitu dunia maya. Dunia dimana kita mendapatkan kebebasan yang luas dalam mengekspresikan diri, bersosialisasi, bahkan berbelanja secara online. Namun, dibalik semua kemudahan itu, ada sisi lain yang cukup miris untuk diperbincangkan, yakni bisnis esek-esek.

Prostitusi online berkembang dengan sangat cepat. Seperti wabah penyakit yang menyerang generasi muda kita. Tak jarang bisnis prostitusi online juga melibatkan remaja belia berusia belasan tahun.

Motifnya terkesan sangat sepele. Demi mendapatkan uang secara cepat, gadis-gadis yang masih bau kencur itu pun rela menjajakan tubuhnya ke para hidung belang. Sungguh ironis. Teknologi yang notabenenya digunakan untuk memudahkan segala persoalan hidup malah disalahgunakan untuk hal-hal negatif seperti prostitusi online. Lantas siapa yang patut disalahkan dengan maraknya bisnis prostitusi online?

Jika ada yang harus disalahkan, maka saya menyalahkan masyarakat Indonesia yang telah berganti budaya. Kita seolah terbawa arus globalisasi tentang kebebasan tanpa terkendali. Para hidung belang merupakan produk gagal dari masyarakat yang pantas dikambinghitamkan. Seandainya saja para hidung belang itu tidak mencari jasa esek-esek, maka tidak akan pernah ada remaja putri kita yang menawarkan kebutuhan para hidung belang tersebut. Seperti hukum ekonomi, ada permintaan maka ada penawaran.

Lalu bagaimana solusinya? Disinilah peran para pemuka agama untuk membangkitkan kembali budaya ketimuran dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan keagamaan. Harapannya, para hidung belang dan PSK prostitusi online bisa sadar diri bahwa apa yang mereka jalani adalah sesuatu yang salah.

Iklan

6 tanggapan untuk “Sisi Lain Dunia Maya, Prostisusi Online

  1. Lokalisasi ditutup, warung remang-remang digrebek, di hotel kena razia ya larinya ke yang online2. Teknologi aja mendukung kok. Selama pasar menggiurkan, (dalam hal ini pria hidung belang), penjual akan menjajakan barang/jasa nya. Langkah mudah dan sederhananya sih mungkin ya saling menjaga kerabat, saudara, dan keluarga dari efek negatif teknologi. #Serius amat sih#

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s