Hanya 200 Kata

Sebatang rokok telah habis. Pikiran saya masih berpikir keras mencari 200 kata yang tepat, menyusun kata tersebut agar terlihat indah dan menjadikan susunan kata tersebut sebuah artikel.

Menulis itu mudah, tapi menulis sesuatu yang indah itu sulit sekali. Saya harus banyak membaca untuk menambah pembedaharaan kata, berpikir dengan jernih, dan bekerja keras untuk menuliskan kata demi kata menjadi artikel.

Kadang-kadang saya mengalami kebuntuan dan bosan ketika menulis. Saya mulai membenci diri sendiri atas tidak adanya bakat menulis dalam diri saya. Mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa saya bisa menulis sesuatu yang berguna bagi orang lain. Tak jarang saya membaca ulang alasan-alasan menulis berkali-kali dan berharap menghilangkan kebuntuan yang saya alami.

Sambil terus berpikir keras, saya memakan biskuit agar perut saya terasa kenyang. Berharap dengan kekenyangan tersebut mampu mengerakkan pikiran saya untuk menghasilkan karya tulis yang baik. Namun kenyataannya tidak berhasil.

Ternyata menulis itu pekerjaan yang gampang-gampang sulit. Untuk menulis sesuatu yang indah, butuh banyak pengalaman menulis. Dan saya tidak memiliki itu. Akhirnya, saya menulis tentang kebingungan saya menjadi artikel berjudul “hanya 200 kata”. Meskipun hasilnya tidak benar-benar 200 kata.

Iklan

3 tanggapan untuk “Hanya 200 Kata

Komentar ditutup.